Dari Abu
Hurairah radiyallahuanhu dari Nabi salallahu’alihi wasalam, beliau
bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan
diberi naungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan
melainkan naungan-Nya (Hari Kiamat), yaitu: … (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul
dan berpisah atas dasar cinta pada Allah; …” (Muttafaq ‘alaihi). 1
Setiap
kita punya orang atau sesuatu yang kita cintai. Ibu, ayah, kakak, atau adik
sudah tentu menjadi kecintaan dalam hati. Walau sekaligus mereka bisa menjadi
cobaan bagi kita. Mereka adalah keluarga kita, mencintai mereka tentu lumrah
sebab kita diikat lewat pertalian darah.
Namun, bagaimana
jika mencintai mereka yang sama sekali tidak dihimpun dalam pertalian darah
yang sama? Mencintai tetangga? Mencintai anak yatim? Mencintai sahabat? Dari
beberapa contoh itu aku begitu berminat pada kecintaan terhadap sahabat.
Sahabat,
siapa di antara kita yang tidak memiliki sahabat? Berapa banyak sahabatmu?
Satu, dua, tiga, atau lebih dari itu? Alangkah nikmat jika kita dikaruniai
lebih dari satu sahabat. Mengapa demikian? Sebab mereka bukan sekadar teman sepermainan.
Sahabat adalah mereka yang senantiasa
merelakan diri untuk membersamai kita baik suka maupun duka. Mereka hadir
selaksa serbuk kebahagiaan yang tiada habisnya. Walau kadang mereka bisa juga
menjadi korek api yang memantik
kesalahpahaman. Namun begitulah tabiat berkawan. Berbeda dengan teman yang hadirnya lebih sering
terdengar ketika bahagia menyanjung kita.
Dua
orang teman bisa bersahabat dapat dicetuskan melalui beberapa faktor. Namun,
yang paling sering aku baca, faktor kesamaan-lah
menjadi biang dari semua itu. Menurut teori-teori psikologi, kita cenderung
menyukai orang yang menyerupai (sama dengan) kita.
Dari
suka ia bisa menjalar menjadi cinta dan kasih sayang. Demikianlah kita bisa
saling merelakan diri satu sama lain baik suka atau duka. Apalagi jika ia
dibingkai dalam kecintaan pada Allah.
Ini lebih legit rasanya dari pada nektar yang dihisap para lebah madu.
Bukankah
manis ketika persahabatan dibumbui nasehat untuk gemar beribadah pada Allah?
Bukankah rasanya lebih tulus ketika semua disandarkan pada Allah? Bukan karena
nasab atau eloknya paras, atau bukan pula sebab materi semata.
Manis
dan indah begitulah menurutku. Mengapa aku berkata demikian? Sebab penulis
telah menemukan mereka dalam kehidupan yang getir ini. Sungguh laksana nektar
yang sangat manis dari segala nektar yang ada.
Cobalah
kecap sejenak, sejenak saja, maka rasa itu bagai candu. Candu untuk bisa
bertemu lebih banyak lagi. Bertemu mereka yang menghamba hanya pada Allah itu
tiada tara.
Berbincang
masalah ini, sungguh Rasulullah salallahu’alaihi
wasalam telah menganjurkan kita tentangnya. Menganjurkan kita untuk saling
mencintai karena Allah. Sungguh menarik anjurannya, selain itu ada pula cara
sederhana memulainya.
Katakanlah
pada mereka yang kalian cintai bahwa kalian mencintai mereka. Sederhana saja,
“Aku mencintaimu kawan atau ana ukhibukum
fillah.” Apakah ini terlalu sulit? Ya, ada sebagian teman-teman yang
menganggap ini norak. Mungkin mereka
belum tahu ya sunnah ini (menyatakan cinta).
Dari Abu
Karimah yaitu al-Miqdad (di sebagian naskah disebut al-Miqdam) bin Ma’dikarib
dari Nabi salallahu’alaihi wasalam, beliau
bersabda: “Jikalau seseorang mencintai
saudaranya (seagama), maka hendaklah
memberitahukan kepada saudaranya itu bahwa ia mencintainya” (H.R. Abu
Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata: “Hadits (ini) hasan).
Padahal
dari yang dianggap sebagain orang ini adalah norak justru terdapat banyak kemudahan. Kemudahan untuk dapat
membangun persahabatan menjadi lebih hangat lagi, lebih erat lagi, dan lebih
kokoh lagi. Tidakkah kalian tergiur untuk mempererat persahabatan?
Lalu,
bagaimana dengan yang sederhana memulainya? Ada yang bisa menebak?
Dari Abu
Hurairah radiyallahuanhu berkata:
“Rasulullah salallahu’alaihi wasalam
bersabda: “Demi Zat yang jiwaku di dalam
genggaman-Nya, kalian semua belum disebut beriman (dengan sempurna) hingga
kalian saling mencintai. Maukah kalian kuberi petunjuk yang apabila itu kalian
lakukan, maka kalian semua dapat saling mencintai? Tebarkan salam di antara kalian semua” (H.R. Muslim).
Begitulah,
mencintai menjadi lebih kokoh bahkan bisa dimulai dengan cara yang sederhana.
Lebih dari itu, justru Allah sediakan naungan di Hari Kiamat nanti (yang tiada
naungan yang dapat diperoleh selain dari Nya). Mari saling mencintai karena
Allah.
Tapi
sebelum aku tutup artikel ini, mencintai dan saling menyatakannya bukan pada
mereka yang lawan jenis ya. Kalau yang “itu”, menyatakan cinta pada lawan
jenis, ada kaidah atau aturan main yan lain lagi, kawan. Baiklah mungkin lain
waktu kita bisa bahas yang satu ini, In
Sha Allah. Wallahu a’lam…
Referensi:
Imam an
Nawawi. (2009). Riyadhus Shalihin.
Jakarta: Pustaka as-Sunnah, halaman 334-343).
1 Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu dari Nabi salallahu’alihi wasalam, beliau
bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah dalam
naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya (Hari Kiamat),
yaitu: (1) imam (pemimpin) yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah
kepada Allah Azza wa Jalla; (3) seseorang yang hatinya bergantung pada
masjid-masjid; (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya
berkumpul dan berpisah atas dasar cinta pada Allah; (5) seorang lelaki yang
diajak (mesum) oleh wanita yang mempunyai kedudukan serta kecantikan, lalu ia
berkata: ‘Sesungguhna saya ini takut kepada Allah’; (6) seorang yang
bershadaqah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa
yang dilakukan oleh tangan kanannya; dan (7) seorang yang ingat kepada Allahh
dalam keadaan menyendiri lalu mencucurkan air mata” (Muttafaq ‘alaihi).

No comments:
Post a Comment