Friday, October 3, 2014

Katakan Cinta


Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu dari Nabi salallahu’alihi wasalam, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya (Hari Kiamat), yaitu: … (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah atas dasar cinta pada Allah; …” (Muttafaq ‘alaihi). 1

Setiap kita punya orang atau sesuatu yang kita cintai. Ibu, ayah, kakak, atau adik sudah tentu menjadi kecintaan dalam hati. Walau sekaligus mereka bisa menjadi cobaan bagi kita. Mereka adalah keluarga kita, mencintai mereka tentu lumrah sebab kita diikat lewat pertalian darah.

Namun, bagaimana jika mencintai mereka yang sama sekali tidak dihimpun dalam pertalian darah yang sama? Mencintai tetangga? Mencintai anak yatim? Mencintai sahabat? Dari beberapa contoh itu aku begitu berminat pada kecintaan terhadap sahabat.

Sahabat, siapa di antara kita yang tidak memiliki sahabat? Berapa banyak sahabatmu? Satu, dua, tiga, atau lebih dari itu? Alangkah nikmat jika kita dikaruniai lebih dari satu sahabat. Mengapa demikian? Sebab mereka bukan sekadar teman sepermainan.

Sahabat adalah mereka yang senantiasa merelakan diri untuk membersamai kita baik suka maupun duka. Mereka hadir selaksa serbuk kebahagiaan yang tiada habisnya. Walau kadang mereka bisa juga menjadi korek api yang memantik kesalahpahaman. Namun begitulah tabiat berkawan. Berbeda dengan teman yang hadirnya lebih sering terdengar ketika bahagia menyanjung kita.

Dua orang teman bisa bersahabat dapat dicetuskan melalui beberapa faktor. Namun, yang paling sering aku baca, faktor kesamaan-lah menjadi biang dari semua itu. Menurut teori-teori psikologi, kita cenderung menyukai orang yang menyerupai (sama dengan) kita.
Dari suka ia bisa menjalar menjadi cinta dan kasih sayang. Demikianlah kita bisa saling merelakan diri satu sama lain baik suka atau duka. Apalagi jika ia dibingkai dalam kecintaan pada Allah. Ini lebih legit rasanya dari pada nektar yang dihisap para lebah madu.

Bukankah manis ketika persahabatan dibumbui nasehat untuk gemar beribadah pada Allah? Bukankah rasanya lebih tulus ketika semua disandarkan pada Allah? Bukan karena nasab atau eloknya paras, atau bukan pula sebab materi semata.

Manis dan indah begitulah menurutku. Mengapa aku berkata demikian? Sebab penulis telah menemukan mereka dalam kehidupan yang getir ini. Sungguh laksana nektar yang sangat manis dari segala nektar yang ada.

Cobalah kecap sejenak, sejenak saja, maka rasa itu bagai candu. Candu untuk bisa bertemu lebih banyak lagi. Bertemu mereka yang menghamba hanya pada Allah itu tiada tara.
Berbincang masalah ini, sungguh Rasulullah salallahu’alaihi wasalam telah menganjurkan kita tentangnya. Menganjurkan kita untuk saling mencintai karena Allah. Sungguh menarik anjurannya, selain itu ada pula cara sederhana memulainya.

Katakanlah pada mereka yang kalian cintai bahwa kalian mencintai mereka. Sederhana saja, “Aku mencintaimu kawan atau ana ukhibukum fillah.” Apakah ini terlalu sulit? Ya, ada sebagian teman-teman yang menganggap ini norak. Mungkin mereka belum tahu ya sunnah ini (menyatakan cinta).

Dari Abu Karimah yaitu al-Miqdad (di sebagian naskah disebut al-Miqdam) bin Ma’dikarib dari Nabi salallahu’alaihi wasalam, beliau bersabda: “Jikalau seseorang mencintai saudaranya (seagama), maka hendaklah memberitahukan kepada saudaranya itu bahwa ia mencintainya” (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi berkata: “Hadits (ini) hasan).

Padahal dari yang dianggap sebagain orang ini adalah norak justru terdapat banyak kemudahan. Kemudahan untuk dapat membangun persahabatan menjadi lebih hangat lagi, lebih erat lagi, dan lebih kokoh lagi. Tidakkah kalian tergiur untuk mempererat persahabatan?

Lalu, bagaimana dengan yang sederhana memulainya? Ada yang bisa menebak?
Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu berkata: “Rasulullah salallahu’alaihi wasalam bersabda: “Demi Zat yang jiwaku di dalam genggaman-Nya, kalian semua belum disebut beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kuberi petunjuk yang apabila itu kalian lakukan, maka kalian semua dapat saling mencintai? Tebarkan salam di antara kalian semua(H.R. Muslim).

Begitulah, mencintai menjadi lebih kokoh bahkan bisa dimulai dengan cara yang sederhana. Lebih dari itu, justru Allah sediakan naungan di Hari Kiamat nanti (yang tiada naungan yang dapat diperoleh selain dari Nya). Mari saling mencintai karena Allah.

Tapi sebelum aku tutup artikel ini, mencintai dan saling menyatakannya bukan pada mereka yang lawan jenis ya. Kalau yang “itu”, menyatakan cinta pada lawan jenis, ada kaidah atau aturan main yan lain lagi, kawan. Baiklah mungkin lain waktu kita bisa bahas yang satu ini, In Sha Allah. Wallahu a’lam…

Referensi:
Imam an Nawawi. (2009). Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka as-Sunnah, halaman 334-343).

1 Dari Abu Hurairah radiyallahuanhu dari Nabi salallahu’alihi wasalam, beliau bersabda: “Ada tujuh golongan yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya (Hari Kiamat), yaitu: (1) imam (pemimpin) yang adil; (2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla; (3) seseorang yang hatinya bergantung pada masjid-masjid; (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah atas dasar cinta pada Allah; (5) seorang lelaki yang diajak (mesum) oleh wanita yang mempunyai kedudukan serta kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhna saya ini takut kepada Allah’; (6) seorang yang bershadaqah dan menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kanannya; dan (7) seorang yang ingat kepada Allahh dalam keadaan menyendiri lalu mencucurkan air mata” (Muttafaq ‘alaihi).

No comments:

Post a Comment