Friday, October 3, 2014

Gilanya Selfie (Selfie Craze)


Kemampuan mobile phone era kini semakin berkembang. Bukan lagi untuk sekadar menelepon atau berkirim pesan singkat. Telepon nirkabel seukuran genggaman tangan ini bisa dioperasikan lebih dari itu. Misalnya saja untuk operasi wajah tanpa undergo di bawah pisau. Cukup unduh aplikasinya, cari yang gratis, dan klik sana-sini, selesai vermak wajah tanpa bayar dan rasa sakit. Beginilah hidup di zaman digital dengan fasilitas smartphone.

Tidak ketinggalan dalam urusan berkawan. Berkawan kini hanya seukuran jari. Kita tidak perlu berpayah menenteng koper bepergian ke luar daerah untuk menjenguk kawan lama. Cukup tekan atau geser smartphone kita dan segalanya bisa dikendalikan.

Dengannya semakin populerlah social media mulai dari Friendster, kemudian Facebook, lalu Twitter, dan yang tidak kalah lagi Instagram atau Pinterest. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian anggota dari salah satu atau semua akun itu?

Kalau aku, aku sendiri adalah anggota kesemua situs itu. Aku kira ini bukan hal yang mengejutkan. Tak heran jika banyak yang jadi anggota social media dengan lebih dari satu jumlah. Fasilitas yang berbeda, namun mirip, berhasil membuatku jatuh ke dalam jebakan mereka.

Sebab aku sedang mengembangkan hobi menulis dan fotografi, tidak ketinggalan pula kehidupan sosial ala kadarnya. Maka, Facebook, Twitter, Instagram, dan Blogspot, ada juga yang lain, aku jajaki sebagai kanal pengembangan diri.

Sejauh berkecimpung di dunia ini, penulis lebih suka mengamati kehidupan para netizen penikmat social media. Contohnya saja fenomena selfie yang semakin hari kini semakin digemari. Kosa kata selfie resmi dibubuhkan dalam kamus Oxford sebagai word of the year. Tepatnya kata itu mulai populer pada tahun 2013. Pusat Penelitian PEW (PEW Research Center) melaporkan bahwa 91% dari remaja gemar melakukan 'Selfie'.

Tapi, tunggu dulu, rupanya bukan hanya remaja yang ketagihan selfie. Barack Obama Presiden Amerika, David Cameron Perdana Menteri Inggris, dan sejumlah “generasi lanjut” lainnya juga latah dengan selfie.

Lebih dari pada itu, penulis menemukan berita yang di luar dari kebiasaaan. Dari Babcock mengabarkan bahwa ada seorang talent agent dari Los Angles, Amerika Serikat, yang rela merogoh kocek hingga $ 15.000. Mengapa dia begitu ringan merelakan ribuan dollarnya itu? Hanya demi satu tujuan, yaitu untuk tampil sesempurna mungkin ketika selfie. Bisa kalian bayangkan bagaimana dampak selfie ini?

Lebih mencengangkan lagi ada juga artikel yang menuliskan bahwa selfie bisa memicu penyakit kejiwaan. Minimal mungkin kita bisa dirundung penyakit body dysmorphia dan yang paling ekstrim ialah bunuh diri.

Singkatnya, body dysmorphia atau penyakit dismorfik tubuh adalah penyakit yang menggerogoti citra tubuh. Artinya, jika kita diserang penyakit ini, rasanya kita terlau cemas dan khawatir berlebihan akan penampilan fisik kita. Contohnya seperti talent agent yang sudah penulis sebutkan tadi. Saking merasa tubuhnya atau penampilannya tidak sempurna, akhirnya dia mengambil jalan pintas untuk melakukan bedah plastik. Padahal Allah melarang keras melakukan hal semacam ini.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu, ia berkata: “Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan meminta ditato, yang mencukur bulu alis dan yang meminta dicukur bulu alisnya dan yang mengikir gigi untuk kecantikan yang merubah-rubah ciptaan Allah” ( Muttafaq ‘alaih).

Memang, tidak semua orang selfie tega melakukan kedzaliman terhadap diri sendiri sampai sejauh itu. Tapi, minimal mungkin kita merasa riya’. Tidakkah begitu?

Analoginya speerti ini: misalnya, Allah menakdirkan kita punya paras yang menawan, lalu kita selfie. Lantas orang-orang yang berteman dengan kita di media sosial memberikan tanda “jempol” atau “hati” pada foto itu, apakah tidak takut hati itu tergelincir ke lubang riya’?

Selain dari pada itu, misalkan, ternyata Allah menakdirkan kita tidak berparas elok nan rupawan atau yah biasa-biasa saja deh. Tapi kita begitu terdorong untuk melakukan selfie. Sementara kita melihat orang lain yang cantik atau ganteng dan seterusnya yang membuat kita iri dengan fisik mereka. Bisa saja tanpa sadar terselib kekufuran pada Allah sebab fisik yang jauh dari kemolekkan.

Tidak salah menurutku jika ada yang bilang: selfie itu kepuasaaan sesaat yang melalaikan tujuan jangka panjang. Jadi, apakah kalian masih berminat dengan selfie? Atau kalian lebih suka menyimpan wajah elok kalian di balik tabir dan mempersembahkannya pada yang teristimewa saja? Atau ada pilihan lain? Silahkan…

Namun aku lebih suka jika kita bisa pensiun dari selfie supaya jauh dari jurang penyakit hati dan mungkin yang lebih besar dari pada ini. Kita tidak pernah tahu lewat pintu mana kita bisa terjerumus ke Naar (api neraka) atau selamat menuju Jannah. Mungkin sedikit rendah hati menyimpan wajah rupawan untuk yang teristimewa bisa jadi jalan lurus menuju pintu selamat. Wallahu a’lam…

Referensi:
Sturt, David & Nordstrom, Todd. Diakses pada 16 Mei 2014, dari http://www.forbes.com/sites/davidsturt/2014/04/29/the-selfie-mental-disorder-or-insight-to-getting-better-results/

No comments:

Post a Comment