Kemampuan
mobile phone era kini semakin
berkembang. Bukan lagi untuk sekadar menelepon atau berkirim pesan singkat.
Telepon nirkabel seukuran genggaman tangan ini bisa dioperasikan lebih dari
itu. Misalnya saja untuk operasi wajah tanpa undergo di bawah pisau. Cukup unduh aplikasinya, cari yang gratis,
dan klik sana-sini, selesai vermak wajah
tanpa bayar dan rasa sakit. Beginilah hidup di zaman digital dengan fasilitas smartphone.
Tidak
ketinggalan dalam urusan berkawan. Berkawan kini hanya seukuran jari. Kita
tidak perlu berpayah menenteng koper bepergian ke luar daerah untuk menjenguk
kawan lama. Cukup tekan atau geser smartphone
kita dan segalanya bisa dikendalikan.
Dengannya
semakin populerlah social media mulai
dari Friendster, kemudian Facebook, lalu Twitter, dan yang tidak
kalah lagi Instagram atau Pinterest. Bagaimana dengan kalian?
Apakah kalian anggota dari salah satu atau semua akun itu?
Kalau
aku, aku sendiri adalah anggota kesemua situs itu. Aku kira ini bukan hal yang
mengejutkan. Tak heran jika banyak yang jadi anggota social media dengan lebih dari satu jumlah. Fasilitas yang berbeda,
namun mirip, berhasil membuatku jatuh ke dalam jebakan mereka.
Sebab aku
sedang mengembangkan hobi menulis dan fotografi, tidak ketinggalan pula kehidupan
sosial ala kadarnya. Maka, Facebook,
Twitter, Instagram, dan Blogspot, ada
juga yang lain, aku jajaki sebagai kanal pengembangan diri.
Sejauh berkecimpung
di dunia ini, penulis lebih suka
mengamati kehidupan para netizen penikmat
social media. Contohnya saja fenomena
selfie
yang semakin hari kini
semakin digemari. Kosa kata selfie resmi dibubuhkan dalam kamus Oxford sebagai word of the year. Tepatnya kata itu mulai populer pada tahun 2013.
Pusat Penelitian PEW (PEW Research Center)
melaporkan bahwa 91% dari remaja gemar melakukan 'Selfie'.
Tapi,
tunggu dulu, rupanya bukan hanya remaja yang ketagihan selfie. Barack
Obama Presiden Amerika, David Cameron Perdana Menteri Inggris, dan sejumlah
“generasi lanjut” lainnya juga latah dengan
selfie.
Lebih
dari pada itu, penulis menemukan berita yang di luar dari kebiasaaan. Dari
Babcock mengabarkan bahwa ada seorang talent
agent dari Los Angles, Amerika Serikat, yang rela merogoh kocek hingga $
15.000. Mengapa dia begitu ringan merelakan ribuan dollarnya itu? Hanya demi
satu tujuan, yaitu untuk tampil sesempurna mungkin ketika selfie. Bisa kalian
bayangkan bagaimana dampak selfie ini?
Lebih
mencengangkan lagi ada juga artikel yang menuliskan bahwa selfie bisa memicu
penyakit kejiwaan. Minimal mungkin kita bisa dirundung penyakit body
dysmorphia dan yang paling
ekstrim ialah bunuh diri.
Singkatnya,
body dysmorphia atau penyakit
dismorfik tubuh adalah penyakit yang menggerogoti citra tubuh. Artinya, jika
kita diserang penyakit ini, rasanya kita terlau cemas dan khawatir berlebihan
akan penampilan fisik kita. Contohnya seperti talent agent yang sudah penulis sebutkan tadi. Saking merasa tubuhnya atau penampilannya tidak sempurna, akhirnya
dia mengambil jalan pintas untuk melakukan bedah plastik. Padahal Allah
melarang keras melakukan hal semacam ini.
Diriwayatkan
dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu,
ia berkata: “Allah melaknat
wanita-wanita yang mentato dan meminta ditato, yang mencukur bulu alis dan yang
meminta dicukur bulu alisnya dan yang mengikir gigi untuk kecantikan yang merubah-rubah ciptaan Allah” (
Muttafaq ‘alaih).
Memang,
tidak semua orang selfie tega melakukan kedzaliman
terhadap diri sendiri sampai sejauh itu. Tapi, minimal mungkin kita merasa riya’. Tidakkah begitu?
Analoginya
speerti ini: misalnya, Allah menakdirkan kita punya paras yang menawan, lalu
kita selfie.
Lantas orang-orang yang berteman dengan kita di media sosial memberikan
tanda “jempol” atau “hati” pada foto itu, apakah tidak takut hati itu
tergelincir ke lubang riya’?
Selain
dari pada itu, misalkan, ternyata Allah menakdirkan kita tidak berparas elok
nan rupawan atau yah biasa-biasa saja deh. Tapi kita begitu terdorong untuk
melakukan selfie. Sementara kita melihat orang lain yang cantik atau ganteng
dan seterusnya yang membuat kita iri dengan fisik mereka. Bisa saja tanpa sadar
terselib kekufuran pada Allah sebab fisik yang jauh dari kemolekkan.
Tidak
salah menurutku jika ada yang bilang: selfie itu kepuasaaan sesaat yang melalaikan tujuan jangka panjang. Jadi,
apakah kalian masih berminat dengan selfie? Atau kalian lebih suka
menyimpan wajah elok kalian di balik tabir dan mempersembahkannya pada yang
teristimewa saja? Atau ada pilihan lain? Silahkan…
Namun aku
lebih suka jika kita bisa pensiun dari selfie supaya jauh dari jurang
penyakit hati dan mungkin yang lebih besar dari pada ini. Kita tidak pernah
tahu lewat pintu mana kita bisa terjerumus ke Naar (api neraka) atau
selamat menuju Jannah. Mungkin sedikit rendah hati menyimpan wajah rupawan
untuk yang teristimewa bisa jadi jalan lurus menuju pintu selamat. Wallahu a’lam…
Referensi:
Babcock,
Gregory. Diakses pada 16 Mei 2014, dari http://www.complex.com/style/2014/04/woman-gets-plastic-surgery-to-look-better-in-selfies.
Ferrand,
Casey. Diakses pada 16 Mei 2014, dari http://www.wdsu.com/news/local-news/new-orleans/signs-of-suffering-from-selfie-addiction/25941110.
Moukalled,
Diana. Diakses pada 16 Mei 2014, dari http://english.alarabiya.net/en/views/news/middle-east/2014/04/22/Me-my-selfie-and-I.html.
Sturt,
David & Nordstrom, Todd. Diakses pada 16 Mei 2014, dari http://www.forbes.com/sites/davidsturt/2014/04/29/the-selfie-mental-disorder-or-insight-to-getting-better-results/.

No comments:
Post a Comment