Friday, October 3, 2014

Futur? Malas Baca Qur’an? Coba Tips Ini!


Fitrah manusia jika iman itu naik dan turun. Karenanya, Rasulullah salallahu’alaihi wasalam gemar bedoa di sujud terakhir beliau ketika shalat, yakni doa ketetapan hati. Doa untuk menjaga hati beliau tetap beriman pada Allah. “Hmm… ga’ salah nih Rasulullah berdoa begitu?” Ya tentu tidak salah, beliau adalah teladan kita. Dari kisah ini Rasulullah ingin mengajar kita untuk terus dan senantiasa bermunajat pada Allah. Walau sekadar untuk ia sang benda mungil yang letaknya ada di dalam dada.
Bahkan hal remeh semcam lapar mestinya kita  adukan saja pada Allah. Tidak perlu susah payah mengeluh atau bahkan meminta-minta di jalan. Bagaimana tidak, Nabi Musa yang kelaparan tidak segan curhat pada Allah. Tentu saja Allah memberikan apa yang sudah menjadi hak Nabi Musa. Tapi kali ini bukan cerita tentang Nabi Musa ya, oke kita kembali ke kasus awal.
Bukankah Allah Sang Pemilik Hati? Mudah saja bagi Allah membolak-balikan hati. Mungkin hari atau detik ini kita memiliki iman yang menjulang tinggi ke angkasa raya. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelahnya atau seterusnya. Sebab segala pengetahuan ada di tangan Allah begitu pula hati kita.
Tidak berbeda dengan iman, semangat kita juga kadang ada di bukit kadang ada di lembah. Kadang ia melambung tinggi bagai awan yang bergelantungan di kolong langit. Kadang ia justru terserak di dasar bumi. Dengannya sungguh tak leluasa hati dan diri menghadapi hari.
Ketika iman dan semangat berada pada masa jaya, maka hidup terasa ringan digenggam. Wajah tak hentinya menyungging rona bahagia. Langkah menjadi panjang dan lebar dalam menapaki bumi. Lantas, kesuksesanpun mudah diraih. Tapi bagaimana jika ia sedang lemah? Tentu yang terjadi adalah sebaliknya, bukankah begitu?
Jika keadaan seperti ini, sungguh ada hal kecil yang mungkin sedang sakit. Hal kecil yang mungkin butuh pengobatan sesegera mungkin. Walau kecil rupanya ia justru berperan besar. Bersandingan dengan otak, ia mengoperasikan seluruh tubuh kita. Dialah hati, bukankah Allah mengatakan melalui Rasul-Nya?
“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati” (Muttafaq ’alaihi).
Apakah si kecil kalian sedang sakit? Jika sakit maka tentunya kita butuh obat yang bisa segera menyembuhkan. Sehingga rasa sakitnya tidak akan berlarut-larut. Lantas, obat apa ya yang paling cocok untuk hati ini?
Tentu saja Al Quran, bukankah begitu? Allah dengan jelas mengabarkan pada kita bahwa Al Quran merupakan obat dari segala macam penyakit hati. Al Qur’an memiliki kandungan obat yang bisa menyegerakan diangkatnya rasa sakit dalam hati. Sebab ia adalah sarana bagi kita untuk mengingat Allah. Sementara, mengingat Allah adalah penyembuh hati yang risau.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S. Ar Ra’ad [13]: 28).
Nah tapi bagaimana kalau kita juga sedang dilanda semangat yang loyo dalam membaca Al Qur’an? Hemmm… tidak menyenangkan yah jika sedang dihantui kemalasan? Padahal malas adalah tabiat syaitan. Baiklah bagaimana kalau aku tawarkan beberapa tips sederhana yang mungkin bisa mengendurkan belenggu kemalasan membaca Al Qur’an? Sehingganya hati kita menjadi sehat kembali dan kita bisa bersemangat lagi menghadapi aktifitas harian. Berikut adalah tips-tips sederhananya:
1.    Buka Al Quran kalian. Kali ini aku sarankan kalian buka Al Qur’an yang versi terjemah ya. Al Qur’an terjemah adalah Al Qur’an yang ditulis dengan bahasa ibu. Sehingga kita dapat lebih mudah dalam mengerti dan memahami maksud Allah dalam Al Quran.
2.   Buka daftar nama surat dalam Al Qur’an kalian. Coba kalian pilih secara acak nama surat mana yang kira-kira menarik perhatian kalian saat itu.
3.   Nah sekarang coba cari muqadimah dan penutupan dari surat tersebut. Dua bagian ini biasanya berisikan poin atau hikmah apa yang bisa kita petik dari surat dan keterkaitan antara surat yang satu dan lainnya. Untuk jenis Al Qur’an terjemahan berukuran kecil biasanya bagian ini ditiadakan. Untuk versi cetak kita biasanya harus mengakses Al Qur’an terjemah keluaran Departemen Agama RI atau Al Qur’an terjemah yang berukuran besar. Tapi, tunggu dulu, ada yang lebih praktis, kita bisa kok mengunduh versi digitalnya. Namun hati-hati ya dengan berbagai produk digital. Ingat untuk selalu menjadi netizen yang cerdas dalam melahap informasi. Tanyakan pada ahlinya!
4.   Pahami kandungan pesan apa yang dikandung dalam surat yang kalian pilih.
5. Baca secara menyeluruh surat yang kalian pilih itu dengan (tentunya) baca terjemahannya juga, mau yang lebih keren lagi? Yah baca sekaligus tafsirnya. Misalnya bisa kita rujuk tafsir yang paling populer diakses, yaitu Tafsir Ibnu Katsir.
Kalau sudah dibaca bagaimana? Apakah hati sudah merasa ayem lagi? Tentunya, bukan? Belum? Apakah masih belum juga hati itu merasa damai? Nah berarti ada yang perlu diperbaiki atau ada yang ditambah sebelum melakukan tips di atas. Apa itu?

Ingat? Senantiasalah meluruskan niat dan mengikhklasn amal untuk Allah. Dengannya amal diterima oleh Allah (in sha Allah) lalu membawa keberkahan dalam hati dan hidup kita, Aamiin.

No comments:

Post a Comment