Fitrah manusia jika iman itu naik dan turun. Karenanya,
Rasulullah salallahu’alaihi wasalam
gemar bedoa di sujud terakhir beliau ketika shalat, yakni doa ketetapan hati. Doa untuk menjaga hati beliau tetap beriman
pada Allah. “Hmm… ga’ salah nih Rasulullah berdoa begitu?” Ya tentu
tidak salah, beliau adalah teladan kita. Dari kisah ini Rasulullah ingin
mengajar kita untuk terus dan senantiasa bermunajat pada Allah. Walau sekadar
untuk ia sang benda mungil yang letaknya ada di dalam dada.
Bahkan hal remeh semcam lapar mestinya
kita adukan saja pada Allah. Tidak perlu
susah payah mengeluh atau bahkan meminta-minta di jalan. Bagaimana tidak, Nabi
Musa yang kelaparan tidak segan curhat
pada Allah. Tentu saja Allah memberikan apa yang sudah menjadi hak Nabi Musa.
Tapi kali ini bukan cerita tentang Nabi Musa ya, oke kita kembali ke kasus
awal.
Bukankah Allah Sang Pemilik Hati?
Mudah saja bagi Allah membolak-balikan
hati. Mungkin hari atau detik ini kita memiliki iman yang menjulang tinggi
ke angkasa raya. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelahnya
atau seterusnya. Sebab segala pengetahuan ada di tangan Allah begitu pula hati
kita.
Tidak berbeda dengan iman, semangat kita juga kadang ada di bukit
kadang ada di lembah. Kadang ia melambung tinggi bagai awan yang bergelantungan
di kolong langit. Kadang ia justru terserak di dasar bumi. Dengannya sungguh
tak leluasa hati dan diri menghadapi hari.
Ketika iman dan semangat berada
pada masa jaya, maka hidup terasa ringan digenggam. Wajah tak hentinya
menyungging rona bahagia. Langkah menjadi panjang dan lebar dalam menapaki
bumi. Lantas, kesuksesanpun mudah diraih. Tapi bagaimana jika ia sedang lemah? Tentu
yang terjadi adalah sebaliknya, bukankah begitu?
Jika keadaan seperti ini, sungguh
ada hal kecil yang mungkin sedang
sakit. Hal kecil yang mungkin butuh pengobatan sesegera mungkin. Walau kecil
rupanya ia justru berperan besar.
Bersandingan dengan otak, ia mengoperasikan seluruh tubuh kita. Dialah hati, bukankah Allah mengatakan melalui
Rasul-Nya?
“Sesungguhnya di dalam tubuh ada
segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah
seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak
pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati” (Muttafaq ’alaihi).
Apakah si kecil kalian sedang
sakit? Jika sakit maka tentunya kita butuh obat yang bisa segera menyembuhkan. Sehingga
rasa sakitnya tidak akan berlarut-larut. Lantas, obat apa ya yang paling cocok
untuk hati ini?
Tentu saja Al Quran, bukankah begitu? Allah dengan jelas mengabarkan pada kita
bahwa Al Quran merupakan obat dari segala macam penyakit hati. Al Qur’an memiliki
kandungan obat yang bisa menyegerakan diangkatnya rasa sakit dalam hati. Sebab
ia adalah sarana bagi kita untuk mengingat Allah. Sementara, mengingat Allah
adalah penyembuh hati yang risau.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S. Ar Ra’ad [13]: 28).
Nah tapi bagaimana kalau kita juga
sedang dilanda semangat yang loyo dalam membaca Al Qur’an? Hemmm… tidak
menyenangkan yah jika sedang dihantui kemalasan? Padahal malas adalah tabiat
syaitan. Baiklah bagaimana kalau aku tawarkan beberapa tips sederhana yang
mungkin bisa mengendurkan belenggu kemalasan membaca Al Qur’an? Sehingganya
hati kita menjadi sehat kembali dan kita bisa bersemangat lagi menghadapi
aktifitas harian. Berikut adalah tips-tips sederhananya:
1. Buka Al Quran kalian. Kali ini aku sarankan kalian
buka Al Qur’an yang versi terjemah ya. Al Qur’an terjemah adalah Al Qur’an yang
ditulis dengan bahasa ibu. Sehingga kita
dapat lebih mudah dalam mengerti dan memahami maksud Allah dalam Al Quran.
2. Buka daftar nama surat dalam Al Qur’an kalian. Coba
kalian pilih secara acak nama surat mana yang kira-kira menarik perhatian
kalian saat itu.
3. Nah sekarang coba cari muqadimah dan penutupan dari surat tersebut. Dua bagian
ini biasanya berisikan poin atau hikmah apa yang bisa kita petik dari surat dan
keterkaitan antara surat yang satu dan lainnya. Untuk jenis Al Qur’an
terjemahan berukuran kecil biasanya bagian ini ditiadakan. Untuk versi cetak
kita biasanya harus mengakses Al Qur’an terjemah keluaran Departemen Agama RI
atau Al Qur’an terjemah yang berukuran besar. Tapi, tunggu dulu, ada yang lebih
praktis, kita bisa kok mengunduh versi
digitalnya. Namun hati-hati ya dengan berbagai produk digital. Ingat untuk
selalu menjadi netizen yang cerdas
dalam melahap informasi. Tanyakan pada ahlinya!
4. Pahami kandungan pesan apa yang dikandung dalam surat
yang kalian pilih.
5. Baca
secara menyeluruh surat yang kalian pilih itu dengan (tentunya) baca terjemahannya juga, mau yang lebih keren lagi? Yah baca
sekaligus tafsirnya. Misalnya bisa
kita rujuk tafsir yang paling populer diakses, yaitu Tafsir Ibnu Katsir.
Kalau sudah dibaca bagaimana?
Apakah hati sudah merasa ayem lagi? Tentunya, bukan? Belum? Apakah masih belum
juga hati itu merasa damai? Nah
berarti ada yang perlu diperbaiki atau ada yang ditambah sebelum melakukan tips
di atas. Apa itu?
Ingat? Senantiasalah meluruskan niat dan mengikhklasn amal untuk Allah. Dengannya amal diterima
oleh Allah (in sha Allah) lalu
membawa keberkahan dalam hati dan hidup kita, Aamiin.

No comments:
Post a Comment