Thursday, February 20, 2014

Berharap atau Berusaha?


Bukan rahasia jika mengarungi samudera tak jarang harus berhadapan dengan amukan gelombang. Jika kehidupan ini ialah bentang samudera, maka kita yang berlayar di atasnya tidak bisa tidak suatu saat ‘kan menghadangnya. Gelombang hidup kadang tenang kadang penuh kecamuk. Dari kecamuknya bisa saja kita diterkam hidup-hidup tanpa kompromi.

Ketika amukan gelombang menerkam kapal, maka bisa saja kita terpaksa lesap atau karam di dasar perut samudera. Kalau sudah begini tentu kita sangat berharap datangnya pertolongan. Entahlah bagaimana bentuknya, walaulah seutas tali jerat demi jasad tak jadi disantap samudera.

Sementara dalam kehidupan nyata, bentuk pertolongan bisa beraneka rupa. Mungkin saja kita berharap ada yang memeluk dengan erat, menyelimuti jiwa dan jasad yang menggigil. Atau berharap ada yang mengusap pipi yang basah oleh bulir linang air mata. Atau berharap ada yang menyediakan telinganya untuk menampung segala curahan hati. Atau setidaknya bahu untuk bersandar. Aku sendiri lebih suka telinga yang lebar dan sabar menadah seluruh muntahan perasaan.

Tapi mereka yang dinanti-nanti, mereka yang ditunggu-tunggu, mereka yang diharap-harap, justru tak kunjung siap sedia. Ketika hati dikobar api, sungguh ingin rasanya hadir seseorang yang menyuguhkan segelas air. Sayang, apa daya asa tak tunai. Bahkan jika ada yang bersedia, respon yang diharapkan kadang tak mampu memenuhi perngharapan.

Setiap kita punya urusan pribadi masing-masing. Setiap kita punya kepentingan pribadi masing-masing. Dengan begitu, setiap kita terlalu sibuk mengerti kepedihan orang lain. Setiap kita telah begitu repot untuk mengulurkan tangan bantuan pada orang lain. Terlebih bagi mereka yang merasa puas dengan diri sendiri. Mereka berpikir bahwa manusia lain hanyalah pemeran piguran FTV. Sekadar cameo yang cuma berlalu dan numpang lewat di jalan cerita kehidupan mereka.

Oleh karena itu, berharap pertolongan pada manusia sering kali hanya memanen buah kekecewaan. Mereka sudah begitu sibuk dan repot dengan hidup mereka sendiri. Maka, menjadi bijak bagi kita untuk tidak terlalu banyak berharap pada mereka. Tidak terlalu banyak berharap untuk dipahami oleh mereka. Tapi justru sebaiknya kita berusaha untuk memahami mereka. Sebab manusia cenderung memberi apa yang diterima. Memberi pertolongan, dengan itu kita terima kembaliannya. Walaulah demikian tentu bukan materi semacam ini yang utama.

Lantas, bagaimana jika hati sangat ingin berharap? Jawabannya, berharaplah hanya pada Allah. Allah-lah sebaik-baik yang memahami hati manusia dan kebutuhanhya. Dia-lah sang pemilik alam raya dan hanya pada-Nya kita kembali.


“Bersandarlah wahai hatiku pada Sang Pemilik Hati. Bersandarlah hingga engkau lelap. Bersandarlah hingga engkau sadar tiada sandaran yang lebih leluasa selain dari pada-Nya.”

No comments:

Post a Comment