Bukan
rahasia jika mengarungi samudera tak jarang harus berhadapan dengan amukan
gelombang. Jika kehidupan ini ialah bentang samudera, maka kita yang berlayar
di atasnya tidak bisa tidak suatu saat ‘kan menghadangnya. Gelombang hidup
kadang tenang kadang penuh kecamuk. Dari kecamuknya bisa saja kita diterkam hidup-hidup
tanpa kompromi.
Ketika amukan
gelombang menerkam kapal, maka bisa saja kita terpaksa lesap atau karam di
dasar perut samudera. Kalau sudah begini tentu kita sangat berharap datangnya
pertolongan. Entahlah bagaimana bentuknya, walaulah seutas tali jerat demi
jasad tak jadi disantap samudera.
Sementara
dalam kehidupan nyata, bentuk pertolongan bisa beraneka rupa. Mungkin saja kita
berharap ada yang memeluk dengan erat, menyelimuti jiwa dan jasad yang
menggigil. Atau berharap ada yang mengusap pipi yang basah oleh bulir linang
air mata. Atau berharap ada yang menyediakan telinganya untuk menampung segala
curahan hati. Atau setidaknya bahu untuk bersandar. Aku sendiri lebih suka
telinga yang lebar dan sabar menadah seluruh muntahan perasaan.
Tapi mereka
yang dinanti-nanti, mereka yang ditunggu-tunggu, mereka yang diharap-harap,
justru tak kunjung siap sedia. Ketika hati dikobar api, sungguh ingin rasanya
hadir seseorang yang menyuguhkan segelas air. Sayang, apa daya asa tak tunai. Bahkan
jika ada yang bersedia, respon yang diharapkan kadang tak mampu memenuhi
perngharapan.
Setiap kita punya
urusan pribadi masing-masing. Setiap kita punya kepentingan pribadi
masing-masing. Dengan begitu, setiap kita terlalu sibuk mengerti kepedihan orang
lain. Setiap kita telah begitu repot untuk mengulurkan tangan bantuan pada
orang lain. Terlebih bagi mereka yang merasa puas
dengan diri sendiri. Mereka berpikir bahwa manusia lain hanyalah pemeran piguran FTV. Sekadar cameo yang cuma berlalu dan numpang lewat di jalan cerita kehidupan mereka.
Oleh
karena itu, berharap pertolongan pada manusia sering kali hanya memanen buah
kekecewaan. Mereka sudah begitu sibuk dan repot dengan hidup mereka sendiri.
Maka, menjadi bijak bagi kita untuk tidak terlalu banyak berharap pada mereka.
Tidak terlalu banyak berharap untuk dipahami oleh mereka. Tapi justru sebaiknya
kita berusaha untuk memahami
mereka. Sebab manusia cenderung memberi apa yang diterima. Memberi pertolongan,
dengan itu kita terima kembaliannya. Walaulah demikian tentu bukan materi
semacam ini yang utama.
Lantas,
bagaimana jika hati sangat ingin berharap? Jawabannya, berharaplah hanya pada
Allah. Allah-lah sebaik-baik yang memahami hati manusia dan kebutuhanhya. Dia-lah sang pemilik alam raya dan
hanya pada-Nya kita kembali.
“Bersandarlah wahai hatiku pada Sang Pemilik
Hati. Bersandarlah hingga engkau lelap. Bersandarlah hingga engkau sadar tiada
sandaran yang lebih leluasa selain dari pada-Nya.”

No comments:
Post a Comment