Dewasa ini kita
telah disibukkan dengan persoalan kesetaraan gender yang digadang-gadang oleh
sebuah aktifitas yang biasa disebut gerakan feminisme. Pada awalnya dikabarkan
bahwa gerakan ini berkembang karena adanya rasa ketertindasan yang dirasakan
oleh para perempuan yang ada di Barat. Lantas, perkembangan feminisme yang
tadinya hanya ada di Barat tersebut tersebar ke seluruh dunia, utamanya melalui
jalan imperialisme yang dilakukan Barat pada Dunia Timur. Gerakan ini bertujuan
ingin menyamakan apa yang selama ini menjadi bias bagi kaum lelaki dan
perempuan.
Istilah feminisme
pertama kali dipopulerkan oleh Charles Fourier, seorang sosialis Perancis yang
banyak memengaruhi perkembangan gerakan feminisme di seluruh dunia. Dalam
perkembangan selanjutnya, pendefinisian istilah feminisme menjadi sulit karena
kaum feminis tidak ingin memberikan defenisi yang pasti dan seragam dengan
berbagai alasan (Husna).
Berbicara feminisme,
feminisme di Indonesia sendiri secara populer dikatakan berawal dari kisah
emansipasi R.A. Kartini. Kartini mencoba memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.
Terutama hak-hak kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan. Kartini dianggap
menjadi keterwakilan atas perempuan Jawa. Sedangkan, selain Kartini, negeri
kita banyak melahirkan tokoh-tokoh emansipasi, di antaranya seperti Cut Nyak
Dhien dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, dan
sebagainya.
Feminisme sebenanya
menuai berbagai pandangan dan anggapan, bahkan kontroversi pun tak luput
menyelubungi paham tersebut. Beberapa masyarakat merasa bahwa gerakan ini telah
merevitalisasi eksistensi perempuan yang selama ini ditindas budaya patriarki.
Namun, sebagian yang lainnya menyatakan bahwa gerakan semacam ini tidak perlu
dibesar-besarkan, bahkan justru memberikan banyak dampak gegar sosial serta
disfungsi nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat.
Secara popular
feminisme dalam beberapa literatur dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu
feminis liberal, feminis radikal, dan feminis sosial. Teori feminis liberal
meyakini bahwa masyarakat telah melanggar nilai tentang hak-hak kesetaraan
terhadap wanita, terutama dengan cara mendefinisikan wanita sebagai sebuah
kelompok ketimbang individu-individu. Mazhab ini mengusulkan agar wanita memiliki
hak yang sama dengan laki-laki (Soeharto).
Feminis radikal
lahir dari aktivitas dan analis politik mengenai hak-hak sipil dan
gerakan-gerakan perubahan sosial pada tahun 1950an dan 1960an; serta
gerakan-gerakan wanita yang semarak pada tahun 1960an dan 1970an (Saulnier
dalam Soeharto). Feminis radikal muncul akibat dominasi sosial oleh kaum lelaki
atau seksisme yang ada di Barat. Jenis ini beranggapan bahwa perempuan
terbelenggu dan terkungkung dalam jerat konstruksi budaya patriarki. Sementara,
feminis sosial adalah aliran yang menyatakan bahwa ketertindasan perempuan
muncul akibat kapitalisme dan juga budaya patriarki.
Selanjutnya, media
massa merupakan salah satu instrumen utama yang membentuk konstruksi jender
pada masyarakat. Laki-laki dan perempuan telah direpresentasikan oleh media
sesuai dengan stereotip-stereotip kultural untuk mereproduksi peranan-peranan
jenis kelamin secara tradisional. Film sebagai salah satu produk dari media
massa juga berperan besar dalam membentuk pandangan masyarakat mengenai
konstruksi jender (Dianingtyas: 2010).
Menurut Zoonen dan
Stevees, feminis sosialis memandang media sebagai instrumen utama dalam
menyampaikan stereotip, patriarkal dan nilai-nilai hegemoni mengenai perempuan
dan femininitas (Dianingtyas: 2010).
Sedangkan, salah
satu bentuk dari media massa tersebut ialah sinema atau selanjutnya akan kami
sebut sebagai film. Dalam film kita dapat menemukan berbagai tanda yang mampu
merepresentasikan berbagai nilai yang terkandung dalam masyarakat. Begitu pula dengan
gambran perempuan. Gambaran perempuan dapat pula kita jumpai dalam berbagai
film yang bertemakan perempuan.
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka kami ingin mencoba membahas “Sinema dan Perempuan”
(Analisis feminisme dalam Film Perempuan Berkalung Sorban dan Film Perempuan
Punya Cerita).
Fokus Pembahasan
Pembahasan tugas
kelompok kami dengan tema “Sinema dan Perempuan” berfokus pada dua buah film,
yaitu film Perempuan Bekalung Sorban
dan film Perempuan Punya Cerita.
Dalam masing-masing film tersebut kami ingin mencoba melihat paradima feminsme
melalui pendekatan Gender Inequality
Approaches dan Reflection Hypothesis.
Konsep Teori
Gender Inequality Approaches dalam Sinema dan Perempuan
Pendekatan ini
membicarakan tentang adanya
ketidaksetaraan gender dalam produksi media.
Reflection Hypothesis sebagai Pendekatan dalam Film “Perempuan
Berkalung Sorban” dan Film “Perempuan
Punya Cerita”
Media hanyalah
cermin. Media menghimpun kebutuhan masyarakat akan suatu informasi tertentu. Dalam
teori ini sebenarnya media merupakan wajah kita sendiri. Contohnya, film tahun
1990an mengandung unsur pornografi. Hal tersebut merupakan wajah masyarakat itu
sendiri. Dapat pula kita pahami dalam paragraf sebuah buku yang menjelaskan
bahwa “The mass media reflect dominant societal values. In the case of
television, the corporate character of the commercial variety causes program
planners and station managers to design programs for appeal to the largest
audiences. To attract these audiences (whose time and attention are sold to
commercial sponsors), the television industry offers programs consonant with
American values” (Tuchman, Daniels dan Benet: 1978, 7).
Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa
penelitian yang telah mengangkat konsep sinema dan perempuan sebagai
penelitian. Di antara beberapa penelitian tersebut yang menurut kelompok kami
memiliki relevansi dengan materi yang kami bahas adalah seperti penelitian: “Representasi Perempuan Jawa dalam Film R.A. Kartini” oleh Edwina Ayu
Dianingtyas, “Gambaran Perempuan dalam
Film Berbagi Suami” oleh Tri Utami, “Konstruksi
Realitas Kaum Perempuan dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita” oleh Andi
Muthmainnah, dan “Representasi Feminisme
dalam Film Ku Tunggu Jandamu” oleh Arga Fajar Rianto.
Dalam penelitian
Representasi Perempuan Jawa dalam Film R.A. Kartini, perempuan digambarkan
sebagai objek budaya patriarki. Perempuan Jawa hanya hidup dalam kekangan kaum
lelaki, tak bebas menentukan pilihan bahkan dalam urusan minat hatinya sendiri
pada lelaki yang boleh mengisi relung hatinya. Konsep perjodohan, pingitan, dan
poligami begitu erat membumbui kehidupan perempuan Jawa. Selain itu,
ketimpangan gender juga diperlihatkan dengan sistem pembagian kerja bahwa
perempuan semestinya senantiasa berada di sumur, kasur, dapur, bukan ruang
publik. Dan pendidikan jadi hak mutlak untuk lelaki bukan perempuan, sebab
pendidikan ialah hal terlarang untuk dienyam oleh perempuan. Atau dengan kata
lain, kebutuhan akan pemenuhan intelektual hanyalah hak kaum lelaki. Sementara,
perempuan cukup menggelorakan kasih sayang dan kelembutan hatinya dalam hidup.
Akan tetapi karakter
Kartini yang tidak menyerah memperlihatkan bagaimana dia berjuang di tengah
lingkungan yang tidak mendukung seorang perempuan untuk maju. Dalam film R.A.Kartini,
sosok Kartini sebagai tokoh utama mendobrak mitos yang selama ini melekat pada
diri perempuan Jawa hingga menjadikan perempuan Jawa dipandang sebelah mata.
Perjuangan Kartini pada akhirnya memunculkan kekuasaannya sebagai seorang
perempuan Jawa (Dianingtyas: 2010).
Sementara, dari
penelitian Gambaran Perempuan dalam Film Berbagi Suami, perempuan juga
digambarkan menjadi korban konstruksi budaya patriarki, tepatnya kekuasaan
suami untuk menikah lagi atau sering dikenal dengan istilah poligami. Namun,
dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa sesungguhnya perempuan memiliki
daya untuk memilih bukan sekedar hanya mengekor kemauan kaum lelaki.
Sedangkan, dalam
penelitian Konstruksi Realitas Kaum
Perempuan dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita menampilkan realitas kaum
perempuan melalui berbagai konflik yang dikisahkan dalam film.
Kaum perempuan
adalah korban pemarjinalan dan pensubordinasian dalam sistem patriarki. Kaum
perempuan mengalami ketidakadilan dengan peran gandanya dalam sektor publik dan
sektor domestik. Kaum perempuan menjadi objek kekerasan dalam rumah tangga
sebagai akibat dari perbedaan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam rumah
tangga sebagaimana kultur sosial mengaturnya (Muthmainnah: 2010, 84-85).
Kaum perempuan
menjadi korban diskriminasi akibat konstruksi gender yang membagi ciri dan
sifat feminitas pada perempuan dan maskulinitas pada laki-laki. Pelacuran
adalah bentuk penindasan kepada kaum perempuan akibat stereotip gender yang
memandang perempuan sebagai objek seks. Perempuan adalah pihak yang sangat
dirugikan dalam praktik poligami yang dilakukan oleh laki-laki. Kaum perempuan
menanggung beban yang paling berat dalam kasus pergaulan bebas dan kehamilan di
luar pernikahan. Kaum perempuan akan selalu memiliki sifat-sifat feminitas atau
ciri ke-perempuan-an dalam dirinya (Muthmainnah: 2010, 84-85).
Dan dalam penelitian
yang dilakukan oleh Arga Fajar Rianto, Representasi Feminisme dalam Film Ku
Tunggu Jandamu. Terdapat enam representasi feminisme dalam penelitian antara lain
feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikalkultural, feminisme
sosialis, feminisme post modern, dan feminisme eksistensialis tercemin melalui
sosok Persik.
Pada feminisme
liberal, Persik sebagai sosok yang punya otonomi, dan berusaha mengkonstruksi
ulang peran yang bersifat gender di masyarakat. Pada feminisme marxis, Persik
sebagai sosok yang menolak bahwa penindasan perempuan adalah bagian yang
esensial dari sistem kapitalis, dan berusaha membebaskan perempuan dari
keperluan pertukaran (exchange), yaitu laki-laki mengontrol produksi untuk
pertukaran dan sebagai konsekuensinya mereka mondiminasi hubungan sosial.
Sedangkan perempuan direduksi menjadi bagian dari property (Rianto: 2010).
Pada feminisme
radikal-kultural, Persik sebagai sosok yang menolak sistem patriarkhi, yang
selalu bertindak subjek, dan punya hak untuk menentukan keputusan. Pada
feminisme sosialis, Persik sebagai sosok yang mengkritik asumsi umum, yaitu
meningkatnya partisipasi perempuan dalam ekonomi lebih berakibat pada peran
antagonisme seksual ketimbang status. Pada feminisme post modern, Persik
sebagai sosok yang menolak perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang harus
diterima dan dipelihara, gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial
(Rianto: 2010)..
Pada feminisme
eksistensialis, Persik sebagai sosok yang menolak bahwa perempuan adalah
makhluk yang tidak lengkap, dan tidak cukup kiranya perempuan dijadikan obyek
laki-laki karena segi biologis yang selalu dianggap perempuan mempunyai
keterbatasan biologis untuk bereksistensi sendiri. Konstruksi feminisme dalam
film “Ku Tunggu Jandamu” ini adalah masih tergolong feminisme setengah jalan,
karena pandangan feminismenya masih terangkai dalam bingkai pemikiran dan
perspektif patriarki (Rianto: 2010).
Gender Inequality Approaches dalam Sinema dan Perempuan
Jika dibandingkan
pada masa sebelum kemerdekaan hingga Orde Baru (1926-1990) dengan masa pasca
reformasi, terdapat peningkatan jumlah sutradara perempuan di Indonesia. Antara
periode 1926 – 1990, hanya terdapat 4 sutradara perempuan, yakni Ratna Asmara,
Citra Dewi, Ida Farida, dan Sofia WD.Kemudian, setelah reformasi hingga saat
ini, jumlah sutradara perempuan setidaknya tercatat lebih dari 22 orang
sutradara perempuan yang menyutradarai film layar lebar. J. B. Kristanto
menuliskan dalam Katalog Film Indonesia, bahwa dari tahun 1998 - 2008 terdapat
14.28 % sutradara perempuan. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah
sutradara perempuan di negara lain yang rata-rata di bawah 10% (Kurnia dalam
Sitepu, 2010).
Gisela Ecker (1986)
mengatakan bahwa seni pada mulanya dihasilkan oleh laki-laki. Laki-laki dengan
rapi memisahkan dan mendominasi sektor publik yang mengontrolnya, dan laki-laki
telah membatasi standar normatif untuk evaluasi. Dan ketika perempuan masuk ke
dalam sektor ini, mereka menyetujui sistem nilai ini. Oleh karena itu, kaum
feminis menyatakan perlunya pengkajian mengenai hubungan antara sinema dan
feminisme. Mereka merasa perlu sinema yang melibatkan perempuan, sehingga
perempuan berkesempatan menghasilkan makna (Kuhn, Laurentis dalam Triastuti
dalam Sitepu, 2010).
Gambaran Umum Film “Perempuan Berkalung Sorban”
Film ini merupakan
film karya Hanung Bramantyo, diambil dari novel karya Abidah EL Khalieqy,
penulis novel perempuan yang bagi beberapa orang dianggap kaum feminis. Berikut
adalah sinopsis dari film Prempuan Berkalung Sorban.
Anissa (Revalina S
Temat), seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri yang
tinggal di lingkungan pesantren yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar
hanyalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Perjalanan hidup Anissa membuatnya
beranggapan bahwa Islam membela laki-laki sementara posisi perempuan sangat
lemah dan tidak seimbang. Ia pun mulai menyatakan protes yang kemudian selalu
dianggap rengekan anak kecil (http://filmindonesia.or.id).
Khudori (Oka
Antara), paman dari pihak Ibu, selalu menemani dan menghibur Anissa. Diam-diam
Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena
Khudori yang sebenarnya juga menaruh hati pada Anissa, menyadari dirinya masih
ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), ayah Annissa.
Khudori pun melanjutkan sekolah ke Kairo. Sementara, Anissa diam-diam
mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan (http://filmindonesia.or.id).
Orang tua Anissa pun
akhirnya nenikahkannya dengan Samsudin (Reza Rahardian), seorang anak Kyai.
Sekalipun Anissa berontak tapi pernikahan tetap berlangsung. Pada kenyataan,
Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Dalam perjalanan
kemudian, Anissa dipertemukan kembali dengan Khudori
(http://filmindonesia.or.id).
Kontroversi Film Perempuan Berkalung Sorban
Film ini ditayangkan
ke layar lebar kata Hanung bertujuan untuk mengobati kekecewaan penonton
terhadap film Ayat-Ayat Cinta. Sebagaimana kita ketahui bahwa tokoh utama
perempuan pada film Ayat-Ayat Cinta harus menjalani hidupnya dengan dipoligami
oleh suaminya. Sehingga, film tersebut terkesan tidak menaruh keberpihakan
kepada kaum perempuan. Dengan demikian dilahirkanlah film Perempuan Berkalung
Sorban.
Namun, alih-alih
mengobati kekecewaan bagi penonton, film Perempuan Berkalung Sorban justru
menuai banyak kritik dan cenderung menjadi boomerang bagi Hanung sendiri. Film
tersebut begitu kental akan unsur SARA dan justru bagi kebanyakan orang
dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai Islam yang paripurna.
Analisis Feminisme dalam Film “Perempuan Berkalung Sorban” melalui
Gender Inequality Approaches
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka poin-poin di
bawah ini merupakan beberapa bentuk representasi feminisme yang ada pada film
Perempuan Berkalung Sorban.
Budaya patriarki. Sebagaimana sebagian besar masayrakat Indonesia
anut dalam berkehidupan sehari-hari. Dalam film ini juga begitu kental akan
unsur budaya patriarki yang menjadikan laki-laki sebagai poros peredaran
kehidupan.
Feminisme liberal.
Film ini dapat kita kategorikan sebagai film beraliran feminism liberal. Sesuai
dengan aliran feminism liberal, film ini berusaha untuk menyadarkan wanita
bahwa mereka tertindas. Sementara, sesungguhnya mereka memiliki kuasa untuk
melawan ketertindasan tersebut dan dapat mencoba menentang diskriminasi
ekonomi, politik, dan sosial yang ada.
Diskriminasi pendidikan. Dalam film tersebut ditayangkan bahwa Anissa
mengalami kesulitan untuk dapat memenuhi hasrat intelektualnya. Anissa dilarang
oleh ayahnya untuk dapat meneruskan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi.
Hal tersebut disebabkan karena Anissa adalah perempuan, bukan lelaki.
Kebalikannya, kakak-kakak Anissa yang dalam hal ini berjenis kelamin laki-laki,
dengan mulus mendapat izin dari ayah mereka untuk bisa meneruskan sekolah ke
luar dari pesantren. Padahal, Islam melalui Al Qur’an dan As Sunah,
sesungguhnya mewajibkan bagi muslim laki-laki dan perempuan untuk menuntut
ilmu, dari semenjak buaian ibunda hingga ke liang lahat. Bahkan beramal tanpa
ilmu adalah hal yang sia-sia.
Pernikahan. Bersambung dengan poin kedua, tidak berhenti sampai
larangan sekolah. Selanjutnya, Anissa justru dijodohkan, bahkan seolah dipaksa
untuk menikah dengan anak dari teman ayahnya yang juga sama-sama kiyai, yaitu
Samsudin. Dalam masalah hatinya, Anissa sebenaranya telah mencintai laki-laki
lain, yakni Lek Khudori. Namun, perbedaan status sosial bagi Khudori yang bukan
anak kiyai, membuat jarak tali percintaan Anissa dan Khudori menjadi sulit
ditautkan. Dan pilihan hati Anissa seolah jadi hak prerogratif ayahnya sebagai
seorang lelaki yang memiliki komando penuh atas armada keluarganya. Bahkan
ibunya sebagai perempuan yang memiliki sedikit hak biacara pun tak mampu
menghalangi niat ayah Anissa. Lantas takdir dalam film tersebut menghantarkan
Anissa untuk melalui kehidupan bersama dengan Samsudin terlebih dahulu, yang
kemudian justru menitikan perih di hati Anissa sebab Samsudin berpoligami
dengan cara yang tidak adil (tidak sesuai dengan syaria’t Islam). Dalam poin
ini, direpresentasikan dalam film tersebut bahwa perempuan tidak memiliki hak
untuk memilih dan harus mau menerima berbagai keputusan laki-laki tanpa
kompromi.
Diskriminasi sosial. Dalam film, Anissa dilarang oleh ayahnya untuk
menunggang kuda. Menunggang kuda hanya diperbolehkan bagi lelaki. Padahal,
sebagai informasi, dalam Islam tidak ada pelarangan bagi wanita untuk
menunggang kuda atau semacamnya.
Kekerasan terhadap
perempuan. Laki-laki dianugerahi sejumlah kekuatan fisik yang lebih besar dari
perempuan. Perbedaan (ketidaksetaraan) tersebut kadangkala membuat laki-laki
justru begitu menyombongkan diri lantas bertindak sewenang-wenang terhadap
perempuan. Keadaan tersebut tergambar dalam film. Dalam film, Anissa mengalami
berbagai tindak kekerasan oleh suami pertamanya, Samsudin.
Perempuan mampu
berperan. Anissa menunjukkan bahwa perempuan juga mampu memiliki peran yang
besar, contohnya dalam film, Anissa dibantu dengan suami keduanya, Lek Khudori,
membangun perpustakaan bagi pesantrennya. Pada awalnya, ide tersebut banyak
menuai tentangan. Namun, determinan Anissa yang telah membulat untuk dapat
menghujani adik-adik perempuannya dengan berbagai ilmu dari buku membuat ia
tetap gigih memperjuangkan ide tersebut hingga berhasil.
Gambaran Umum Film “Perempuan Punya Cerita”
Film ini dibagi
dalam segmen-segmen: Cerita Pulau (sutradara Faitmah T. Rony dan skenario Vivin
Idris), Cerita Yogyakarta (Upi dan Vivian Idris), Cerita Cibinong (Nia Dinata
dan Melissa Karim) dan Cerita Jakarta (Lasja F. Sutanto dan Melissa Karim).
Oleh pembuatnya film
ini disebut film antologi, karena berisikan empat cerita dan dibuat oleh empat
sutradara tentang satu tema: perempuan, atau lebih khusus lagi masalah
reproduksi perempuan. Keempatnya mengisahkan masalah tadi dalam konteks sosial
yang berbeda, tapi semua tokoh utamanya mengalami kekalahan menghadapi
"kekuasaan" yang ada di luar dirinya (http://filmindonesia.or.id).
Cerita pertama, Cerita
Pulau, tentang seorang bidan, Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka), yang menderita
kanker dan dituduh melakukan aborsi ilegal oleh masyarakat pulau tempatnya
mengabdi. Padahal dia terpaksa melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawa ibu
sang janin. Dia juga sekali lagi melakukan hal sama ketika mengetahui Wulan
(Rachel Maryam), anak terbelakang yang hamil akibat perkosaan. Dia terpaksa
pergi dari pulau itu atas desakan suaminya (http://filmindonesia.or.id).
Cerita kedua, Cerita
Yogyakarta, tentang pergaulan seks bebas pelajar. Dialog dan tingkah laku
disajikan secara terus-terang tanpa terlalu dihalus-haluskan. Dilukiskan
perilaku itu antara lain dipengaruhi oleh informasi di internet, sementara
pelajaran seksualitas di kelas malah dilecehkan. Seorang wartawan, Jay Anwar
(Fauzi Baadilla), digambarkan "berpartisipasi" ke dalam pergaulan
mereka, termasuk "melayani" Safina (Kirana Larasati), salah satu nara
sumber yang mencintainya. Hasil liputannya menghebohkan kota dan sekolah
bersangkutan, sementara Safina hanya bisa memakinya lewat sebuah liputan
televise (http://filmindonesia.or.id).
Cerita ketiga,
Cerita Cibinong, tentang Esi (Shanty), petugas kebersihan sebuah klab dangdut,
yang bekerja keras untuk membiayai putrinya, Maesaroh (Ken Nala Amrytha). Ia nyaris
putus asa ketika memergoki suaminya melecehkan Maesaroh. Ia pergi dan ditampung
primadona klab dangdut itu, Cicih (Sarah Sechan), yang sangat berambisi jadi
penyanyi tenar di Jakarta, hingga mudah tertipu seorang kenalan yang bisa
melambungkan kariernya, asal Maesaroh diajak. Maesaroh dinikahkan paksa dengan
seorang pria Taiwan. Esi akhirnya berhasil menemukan Cicih di Jakarta, tapi tak
bisa menyelamatkan Maesaroh (http://filmindonesia.or.id).
Cerita keempat,
Cerita Jakarta, tentang Laksmi (Susan Bachtiar) yang ketularan HIV-AIDS dari
almarhum suaminya yang pecandu narkoba. Ia harus lari dari rumah bersama
putrinya, karena keluarga suaminya yang "terhormat" menyalahkan
dirinya. Karena merasa tak sanggup lagi membiayai putrinya, ia "merelakan"
putrinya itu diambil keluarga besar suaminya (http://filmindonesia.or.id). Pada
segmen inilah perspektif perempuan baru hadir dengan baik. Karakter utama
diberi kebebasan serta pilihan; dan empati selalu terbangun pada tokoh-tokoh
yang memilih. Maka pada cerita ini saya merasa bahwa saya perlu membela
perempuan bernama Laksmi itu, apapun penyakit yang dideritanya (Sasono: 2008).
Sebuah Opini untuk
Film Perempuan Punya Cerita
Perempuan Punya
Cerita memang berani mengambil sebuah risiko besar dengan mengumumkan diri
sebagai film dari perempuan tentang perempuan. Pengakuan terbuka seperti ini
tampaknya belum pernah dibuat sekeras ini dalam film Indonesia pascareformasi.
Film seperti Pasir Berbisik atau Eliana-eliana membawa tema itu tanpa
menyatakan bahwa film-film itu adalah film tentang perempuan (Sasono: 2008).
Hasil keberanian itu
adalah gambaran para perempuan malang dan tersudut. Kita mengerti betul bahwa
kenyataan memang lebih hebat lagi dalam menyudutkan perempuan. Hanya, bukankah
film dengan kepentingan bicara tentang perempuan lazimnya justru hendak
mengeluarkan mereka dari sana atau mengajak penonton bersimpati dan kemudian
berpikiran untuk membawa mereka keluar dari sana? Ketika pernyataan tentang
perempuan lebih penting ketimbang membawa perempuan keluar dari posisinya yang
tersudut, maka inilah jebakan para ideolog dan aktivis yang mendahulukan
egotisme mereka ketimbang persoalan yang mereka bawa (Sasono: 2008).
Untunglah bahwa film
ini disusun dengan urut-urutan seperti ini. Dengan Cerita Jakarta, sebagai
penutup, penonton masih bisa merasa simpati terhadap perempuan di akhir film.
Maka jika Perempuan Punya Cerita dilihat sebagai satu film utuh, mungkin Lasja
Fauzia has saved the day. Tapi ketika film ini memang berniat sebagai film
‘dari perempuan tentang perempuan’ maka sesungguhnya risiko yang sedang
ditempuh fim ini memang terlalu besar (Sasono: 2008).
Analisis Feminisme dalam Film “Perempuan Punya Cerita”
Berdasarkan
penjelasan di atas, maka poin-poin di
bawah ini merupakan beberapa bentuk representasi feminisme yang ada pada film
Perempuan Punya Cerita.
Budaya patriarki. Sebagaimana sebagian besar masyarakat Indonesia
anut dalam berkehidupan sehari-hari. Dalam film ini juga begitu kental akan
unsur budaya patriarki yang menjadikan laki-laki sebagai poros peredaran
kehidupan. Sumantri yang jadi politisasi pemerkosa Wulan, sehingga ia dibenci
warga pulau di Cerita Pulau. Dan Safina yang sekedar menjadi “pelayan” bagi
laki-laki di Cerita Yogyakarta.
Feminisme liberal dan sosial. Film ini dapat kita kategorikan
sebagai film beraliran feminisme liberal sebab representasinya akan
ketertindasan perempuan yang wajib diperjuangkan. Dan juga beraliran feminisme
sosial sebab representasinya akan kemiskinan yang menjadi beban perempuan sebab
kapitalisme.
Perempuan mahluk yang lemah. Dalam film salah satunya pada segmen
satu, perempuan digambarkan menjadi mahluk yang tidak banyak berdaya akan
otoritas laki-laki. Sumantri yang mengabdi di pulau terpencil dan berjuang
dengan gigih untuk keadilan Wulan, justru diceritakan menjadi korban politisasi
para lelaki pemerkosa Wulan. Ia tak berdaya akan pemutarbalikan fakta yang
menyebabkan ia dianggap mengaborsi janin dengan niatan buruk, padahal
sesungguhnya ia berkeinginan untuk menyelamatkan nyawa sang ibu.
Perempuan bukan mahluk rasional. Beberapa orang beranggapan bahwa
perempuan memiliki akal yang pendek yang justru hanya mementingkan masalah hati
dan perasaannya ketimbang berpikir rasional dalam menimbang berbagai hal.
Bahkan, perempuan adalah mahluk yang mudah sekali dimonopoli atau ditipu sebab
tadi bahwa mereka tak berpikir rasional. Hal ini tergambar dalam segmen dua
dari film.
Perempuan rawan human trafficking. Pada segmen ketiga,
menggabungkan dua poin di atas, selain lemah, karakter perempuan yang mudah
ditipu akhirnya menyebabkan perempuan rawan betul menjadi objek human
trafficking.
Wajah kemiskinan wajah perempuan. Berbicara masalah kemiskinan,
banyak anggapan yang mengasosiasikan perempuan ke dalamnya. Dan sejalan dengan
anggapan tersebut pada gilirannya berimplikasi pada berbagai ketertindasan yang
dialami perempuan.
Diskriminasi sosial.
Sebagaimana terjadi pada Esi dalam film, perempuan dirasa menjadi manusia yang
jauh dari akses pendidikan dan pemahaman serta kesadaran akan hak yang asasi bagi
dirinya. Dan seringkali perempuan sekedar menjadi kambing hitam dalam
masyarakat, seperti Laksmi yang menjadi kambing hitam bagi suaminya lantas
tertular HIV/AIDS yang tidak lain dan
tidak bukan justru ditularkan suaminya sendiri akibat pergaulan bebas suaminya.
Kesimpulan
Bentukan budaya yang
hidup dalam negeri ini kebanyakan adalah budaya yang mengekor pada kepemimpinan
laki-laki. Sedikit dari budaya kita yang mengambil garis matrilineal sebagai
acuan berbudaya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, jika kita berbicara
mengenai sinema dan perempuan, maka kami mendapati bahwa perempuan dalam sinema
tak jauh bedanya dengan keadaan budaya masyarakat yang ada. Perempuan dalam
sinema senantiasa dibenturkan dengan budaya yang dikonstruksi sendiri oleh masayarakat,
atau bukan bersifat alamiah. Secara nurtur tersebut, berbagai sinema
menempatkan perempuan minimal sebagai bagian subordinat kaum lelaki. Dengan
kata lain, perempuan dalam sinema senantiasa dibenturkan pada budaya patriarki.
Budaya patriarki dalam
sinema terhadap perempuan biasanya berbentuk seperti: kekuasaan yang lebih
besar porsinya bagi kaum lelaki kepada perempuan, poligami, subordinasi,
kekerasan, keterbungkaman, tak boleh menempuh pendidikan yang setara dengan
kaum lelaki, dan sebagainya.
Namun demikian,
tidak semua pesan yang digambarkan dalam film merupakan realita yang paripurna
bagi perempuan. Ada nilai-nilai dan gambaran lain yang tentunya tak butuh
diemansipasi sebab ia telah menjadi bentukan alam atau natural bukan nurtur.
Sayangnya, kaum feminis seringkali lekang dari norma dan nilai serta aturan
yang ada dalam memerhatikan kaum perempuan. Tidaklah segala hal dalam dunia ini
patut untuk direkonstruksi apalagi jika ia adalah bentukan alami dari Tuhan dan
diatur oleh Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Moleong, Lexy J.
2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tuchman, Gaye,
Daniels, Arlene Kaplan, dan Benet, James. 1978. Images of Women in the Mass
Media. New York: Oxford University Press.
Penelitian:
Dianingtyas, Edwina Ayu. 2010. Representasi Perempuan Jawa
dalam Film R.A. Kartini. Semarang: Universitas Diponegoro (Skirpsi).
Muthmainnah, Andi.
2012. Konstruksi Realitas Kaum Perempuan dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita.
Makassar: Universitas Hasanuddin (Skripsi).
Rianto, Arga Fajar.
2010. Representasi Feminisme dalam Film Ku Tunggu Jandamu Surabaya: Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (Skripsi).
Sitepu, Yovita
Sabarina. 2010. Eksplorasi Sintaksis Baru Tentang Tubuh Perempuandalam Film
Perempuan Punya Cerita-Chants Of Lotus (2007) (Sebuah Pendekatan Psikoanalisis
Feminis). Medan: Universias Sumatra Utara (Tesis).
Utami, Tri. 2012.
Gambaran Perempuan dalam Film Berbagi Suami. Yogyakarta: Universitas Islam
Negeri Sunan Kalijaga (Skripsi).
Jurnal:
Lubis, Syakwan.
2006. Gerakan Feminisme dalam Era Postmodernisme Abad 21. DEMOKRASI Vol. V No.
1 Th. 2006
Internet:
Husna, Fuaziatul.
Tanpa tahun. Analisis Sejarah Perkembangan Feminisme di Indonesia dalam Kacamata Teori Habitus Pierre Bourdieu.
http://www.academia.edu/3616511/Analisis_Sejarah_Perkembangan_Feminisme_di_Indonesia_dalam_Kacamata_Teori_Habitus_Pierre_Bourdieu.
Diakses pada 19 September 2013.
Sasono, Eric. 2008.
Perempuan Punya Cerita: Para Perempuan Malang.
http://old.rumahfilm.org/resensi/resensi_perempuan.htm. Diakses pada 19
September 2013.
Soeharto, Edi. Tanpa
tahun. Teori Feminis dan Pekerjaan Sosial.
http://www.policy.hu/suharto/Naskah%20PDF/YogyaFEMINISMESocialWork.pdf. Diakses
pada 19 September 2013.
Tanpa nama. 2008.
Perempuan Punya Cerita.
http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-c013-07-986177_perempuan-punya-cerita#.UjppxSwYrMs.
Diakses pada 19 September 2013.
Tanpa nama. 2009.
Perempuan Berkalung Sorban.
http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-p024-09-123305_perempuan-berkalung-sorban#.Ujpq_ywYrMs.
Diakses pada 19 September 2013.

No comments:
Post a Comment