Aku menyadari
pelajaran berharga dari Allah untuk tidak bersikap berlebihan. Berlebihan dalam
berbagai hal begitu dibenci oleh Allah. Sementara Islam adalah agama
pertengahan. Tidak terlalau ke kanan atau ke kiri. Tidak terlalu ke Utara atau
ke Selatan. Tidak terlalau ke Barat atau ke Timur, dan semisalnya.
Panduan larangan sikap
berlebihan yang Allah ajarkan padaku adalah berkaitan dengan hati. Pelajaran
ini benar-benar memukul keras diriku. Hati bisa menyukai atau membenci pada
sesuatu atau seseorang. Dalam kasus ini, aku pernah membenci seseorang dengan
terlalu berlebihan.
Awalnya, aku tidak
menyukainya sebab sikapnya yang terlalu “cair” dengan lawan jenis. Lama
kelamaan rasa tidak suka ini menumpuk bagai rekening saldo tabungan. Mungkinkah
ini yang dikabarkan Rasulullah bahwa setan itu mengalir di setiap aliran darah
anak manusia. Berkaitan dengan ini, entah bagaimana rasanya bagai dialiri tipu
daya setan. Aku terus menemukan alasan untuk tidak menyukainya atau aku sedang
menyangkal sesuatu dengan membencinya?
Aku rasa konsekuensi
dari pelajaran Allah itu datang. Rasa benci itu akhirnya berubah bencana.
Hingga akhirnya, aku baru sadar kemudian. Aku terlalu berlebihan membenci
hingga ia dibolak-balikkan oleh Allah Sang Pemilik Hati menjadi perasaan lain
yang sebelumnya tidak aku harapkan.
Sebelum itu aku pun pernah merasakan bagaimana mencintai sesorang dengan begitu membuncah. Aku mencintainya dan berharap bisa bercengkrama bersama. Padahal ia selalu pulang larut malam hingga lelah sekadar bertegur sapa. Setelah semua terlihat begitu lengang, tak disangka kami tetap harus berjauhan. Jauhnya jarak begitu menyiksa sehingga aku selalu berharap akan hadirnya. Aku punya banyak impian dan harapan yang ingin ku bagikan.
Sayang, setelah Allah benar-benar mewujudkan semua keinginan bersamanya, semua sirna. Semua hanya bayang semu. Hingga pada suatu titik balik tertentu aku menyadari banyak hal. Bahkan aku menyadari mengapa kami dulu harus berpisah. Setelah kami menjadi dekat, bukan kasih sayang yang dipadu. Namun kebisuan dan keheningan yang membiaskan kesepian.
Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk menakar hati tepat pada timbangannya yang seimbang.

No comments:
Post a Comment