Saturday, April 12, 2014

Pelajaran Berharga dari Allah


Aku menyadari pelajaran berharga dari Allah untuk tidak bersikap berlebihan. Berlebihan dalam berbagai hal begitu dibenci oleh Allah. Sementara Islam adalah agama pertengahan. Tidak terlalau ke kanan atau ke kiri. Tidak terlalu ke Utara atau ke Selatan. Tidak terlalau ke Barat atau ke Timur, dan semisalnya.

Panduan larangan sikap berlebihan yang Allah ajarkan padaku adalah berkaitan dengan hati. Pelajaran ini benar-benar memukul keras diriku. Hati bisa menyukai atau membenci pada sesuatu atau seseorang. Dalam kasus ini, aku pernah membenci seseorang dengan terlalu berlebihan. 

Awalnya, aku tidak menyukainya sebab sikapnya yang terlalu “cair” dengan lawan jenis. Lama kelamaan rasa tidak suka ini menumpuk bagai rekening saldo tabungan. Mungkinkah ini yang dikabarkan Rasulullah bahwa setan itu mengalir di setiap aliran darah anak manusia. Berkaitan dengan ini, entah bagaimana rasanya bagai dialiri tipu daya setan. Aku terus menemukan alasan untuk tidak menyukainya atau aku sedang menyangkal sesuatu dengan membencinya?

Aku rasa konsekuensi dari pelajaran Allah itu datang. Rasa benci itu akhirnya berubah bencana. Hingga akhirnya, aku baru sadar kemudian. Aku terlalu berlebihan membenci hingga ia dibolak-balikkan oleh Allah Sang Pemilik Hati menjadi perasaan lain yang sebelumnya tidak aku harapkan.

Sebelum itu aku pun pernah merasakan bagaimana mencintai sesorang dengan begitu membuncah. Aku mencintainya dan berharap bisa bercengkrama bersama. Padahal ia selalu pulang larut malam hingga lelah sekadar bertegur sapa. Setelah semua terlihat begitu lengang, tak disangka kami tetap harus berjauhan. Jauhnya jarak begitu menyiksa sehingga aku selalu berharap akan hadirnya. Aku punya banyak impian dan harapan yang ingin ku bagikan. 

Sayang, setelah Allah benar-benar mewujudkan semua keinginan bersamanya, semua sirna. Semua hanya bayang semu. Hingga pada suatu titik balik tertentu aku menyadari banyak hal. Bahkan aku menyadari mengapa kami dulu harus berpisah. Setelah kami menjadi dekat, bukan kasih sayang yang dipadu. Namun kebisuan dan keheningan yang membiaskan kesepian.

Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk menakar hati tepat pada timbangannya yang seimbang.

No comments:

Post a Comment