Sebagaimana kita ketahui bahwa kini kita hidup dalam apa
yang disebut oleh Marshall McLuhan sebagai global
village, dimana media komunikasi modern hari ini bahkan lebih dari puluhan
tahun sebelumnya telah memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia untuk dapat
terus-menerus terkoneksi. Berbagai metafora diciptakan untuk mengartikan
aspek-aspek media. Sebagai contoh, Denis McQuail mengacu pada delapan metafora,
yakni media merupakan:
- jendela yang memungkinkan kita untuk melihat lingkungan kita lebih jauh;
- penafsir yang membantu kita memahami pengalaman;
- landasan atau medium yang menyampaikan informasi;
- komunikasi interaktif yang meliputi opini audiens;
- penanda yang memberi kita instruksi dan petunjuk;
- penyaring yang membagi pengalaman dan focus pada orang lain;
- cermin yang merefleksikan diri kita; dan
- penghalang yang menutupi kebenaran
Memasuki abad ke
21, industri media tengah berada di dalam perubahan yang cepat.
Kerajaan-kerajaan media mulai membangun diri dengan skala yang besar. Merger
ataupun pembelian media lain dalam industri media terjadi di mana-mana dengan
nilai perjanjian yang sangat besar. Tren yang berlaku pada struktur industri
media akhir-akhir ini adalah Pertumbuhan,
Integrasi, Globalisasi, dan Pemusatan
Kepemilikan. Dengan demikian selanjutnya, masyarakat mulai tenggelam dalam
dunia yang dipenuhi oleh media.
Masalahnya
kemudian adalah: Apakah masyarakat terlayani dengan informasi yang aktual,
beragam, berimbang, dan sesuai dengan kepentingan mereka oleh industri media
tersebut, atau perkembangan yang luar biasa ini hanya untuk meningkatkan
keuntungan bagi segelintir orang yang terlibat dalam industri ini?
Sebagai mahasiswa
Ilmu Komunikasi tentunya Anda telah mendapatkan jawabannya. Namun menurut saya,
media dan industrinya tersebut yang kini merajai kehidupan umat manusia
merupakan instrument-instrumen massif yang terus menghegemonisasi umat menusia
itu sendiri. Bagaimana tidak? Banyak
dari masyarakat kita misalnya, konsumsi media kian hari kian meningkat tajam,
pembuatan akun-akun di jejaring sosial kian hari kian menjamur di mana-mana,
mengunduh berbagai informasi (music, video, dan sebagainya) merupakan hal yang
sangat lekat dalam keseharian masyarakat kita.
Namun demikian,
tidak jarang dari mereka yang kemudian belum mampu memanifestasikan guna dan
fungsi media dengan bijaksana. Banyak masyarakat kita, bahkan dari kalangan public figure saling melempar hujatan
sana-sini di media sosial. Selanjutnya, apakah peristiwa-peristiwa ini tidak
membuat kita tersadar bahwa dengan makin maraknya hegemonisasi media hari ini,
maka kita sungguh membutuhkan suatu instrumen yang mampu menyeimbangkan keadaan
ini? Dengan demikian, media literasi adalah suatu instrument yang sejatinya
kita tunggu-tunggu kehadirannya.
Secara sederhana,
media literasi pada dasarnya merupakan kepedulian masyarakat terhadap dampak
buruk dari media, khususnya media massa. Perkembangan teknologi komunikasi,
khususnya berkenaan dengan keberadaan media massa, di samping memberikan
manfaat untuk kehidupan manusia ternyata juga memberikan dampak lain yang
kurang baik. Beberapa dampak tersebut antara lain (1) Mengurangi tingkat
privasi individu, (2) Meningkatkan potensi kriminal, (3) Anggota suatu
komunitas akan sulit dibatasi mengenai apa yang dilihat dan didengarnya, (4)
internet akan mempengaruhi masyarakat madani dan kohesi sosial, serta (5) Akan overload-nya informasi (Fukuyama dan
Wagner, 2000).
Tujuan dasar media
literasi ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan
yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik
di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab
atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan atau citra itu.
Media literasi
mencakup:
- Literasi teknologi; kemampuan memanfaatkan media baru seperti internet agar bisa memiliki akses dan mengkomunikasikan informasi secara efektif.
- Literasi informasi; kemampuan mengumpulkan, mengorganisasikan, menyaring, mengevaluasi dan membentuk opini berdasarkan hal-hal tadi.
- Kreativitas media; kemampuan yang terus meningkat pada individu di manapun berada untuk membuat dan mendistribusikan isi kepada khalayak berapapun ukuran khalayak.
- Tanggung jawab dan kompetensi sosial; kompetensi untuk memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi publikasi secara on-line dan bertanggung jawab atas publikasi tersebut, khususnya pada anak-anak.
Selanjutnya,
perkembangan literasi media sendiri telah dilakukan secara massif di
negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, bahkan mereka berencana untuk
memasukkan “media literasi” ke dalam kurikulum pendidikan mereka. Namun
bagaiman dengana Indonesia? Di negara kita kegiatan media literasi masihlah
merupakan kegiatan yang dilakukan secara sporadic
oleh orang-orang yang memang benar-benar peduli akan hal ini. Dengan
demikian, mengingat media literasi merupakan sebuah entitas yang penting dalam
mengiringi kehidupan masyarakat media hari ini. Maka, mari kita masifkan
kegiatan-kegiatan dan kemampuan dalam media literasi.

No comments:
Post a Comment