Monday, November 4, 2013

Literasi Media


Sebagaimana kita ketahui bahwa kini kita hidup dalam apa yang disebut oleh Marshall McLuhan sebagai global village, dimana media komunikasi modern hari ini bahkan lebih dari puluhan tahun sebelumnya telah memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia untuk dapat terus-menerus terkoneksi. Berbagai metafora diciptakan untuk mengartikan aspek-aspek media. Sebagai contoh, Denis McQuail mengacu pada delapan metafora, yakni media merupakan: 

  1. jendela yang memungkinkan kita untuk melihat lingkungan kita lebih jauh;
  2. penafsir yang membantu kita memahami pengalaman;
  3. landasan atau medium yang menyampaikan informasi;
  4. komunikasi interaktif yang meliputi opini audiens;
  5. penanda yang memberi kita instruksi dan petunjuk;
  6. penyaring yang membagi pengalaman dan focus pada orang lain;
  7. cermin yang merefleksikan diri kita; dan
  8. penghalang yang menutupi kebenaran

 Dewasa ini, telah kita saksikan pula media-media komunikasi modern (media massa) bukan hanya telah berevolusi, melainkan telah berrevolusi. Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan oleh wearesocial.org, menyatakan bahwa dari 200 juta populasi Indonesia, ada sebanyak 39 juta pengguna internet dan 40 juta pengguna situs media sosial. Artinya, 60% dari penduduk Indonesia sudah sangat familiar dengan Internet dan media sosial. Laporan itu juga menyebutkan, lebih dari separuh pengguna Internet di Indonesia berusia 20 tahun ke bawah, dan sekitar 61% diakses lewat telepon genggam.

Memasuki abad ke 21, industri media tengah berada di dalam perubahan yang cepat. Kerajaan-kerajaan media mulai membangun diri dengan skala yang besar. Merger ataupun pembelian media lain dalam industri media terjadi di mana-mana dengan nilai perjanjian yang sangat besar. Tren yang berlaku pada struktur industri media akhir-akhir ini adalah Pertumbuhan, Integrasi, Globalisasi, dan Pemusatan Kepemilikan. Dengan demikian selanjutnya, masyarakat mulai tenggelam dalam dunia yang dipenuhi oleh media.

Masalahnya kemudian adalah: Apakah masyarakat terlayani dengan informasi yang aktual, beragam, berimbang, dan sesuai dengan kepentingan mereka oleh industri media tersebut, atau perkembangan yang luar biasa ini hanya untuk meningkatkan keuntungan bagi segelintir orang yang terlibat dalam industri ini?

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi tentunya Anda telah mendapatkan jawabannya. Namun menurut saya, media dan industrinya tersebut yang kini merajai kehidupan umat manusia merupakan instrument-instrumen massif yang terus menghegemonisasi umat menusia itu sendiri.  Bagaimana tidak? Banyak dari masyarakat kita misalnya, konsumsi media kian hari kian meningkat tajam, pembuatan akun-akun di jejaring sosial kian hari kian menjamur di mana-mana, mengunduh berbagai informasi (music, video, dan sebagainya) merupakan hal yang sangat lekat dalam keseharian masyarakat kita.

Namun demikian, tidak jarang dari mereka yang kemudian belum mampu memanifestasikan guna dan fungsi media dengan bijaksana. Banyak masyarakat kita, bahkan dari kalangan public figure saling melempar hujatan sana-sini di media sosial. Selanjutnya, apakah peristiwa-peristiwa ini tidak membuat kita tersadar bahwa dengan makin maraknya hegemonisasi media hari ini, maka kita sungguh membutuhkan suatu instrumen yang mampu menyeimbangkan keadaan ini? Dengan demikian, media literasi adalah suatu instrument yang sejatinya kita tunggu-tunggu kehadirannya.

Secara sederhana, media literasi pada dasarnya merupakan kepedulian masyarakat terhadap dampak buruk dari media, khususnya media massa. Perkembangan teknologi komunikasi, khususnya berkenaan dengan keberadaan media massa, di samping memberikan manfaat untuk kehidupan manusia ternyata juga memberikan dampak lain yang kurang baik. Beberapa dampak tersebut antara lain (1) Mengurangi tingkat privasi individu, (2) Meningkatkan potensi kriminal, (3) Anggota suatu komunitas akan sulit dibatasi mengenai apa yang dilihat dan didengarnya, (4) internet akan mempengaruhi masyarakat madani dan kohesi sosial, serta (5) Akan overload-nya informasi (Fukuyama dan Wagner, 2000).

Tujuan dasar media literasi ialah mengajar khalayak dan pengguna media untuk menganalisis pesan yang disampaikan oleh media massa, mempertimbangkan tujuan komersil dan politik di balik suatu citra atau pesan media, dan meneliti siapa yang bertanggungjawab atas pesan atau idea yang diimplikasikan oleh pesan atau citra itu.
Media literasi mencakup: 
  1. Literasi teknologi; kemampuan memanfaatkan media baru seperti internet agar bisa memiliki akses dan mengkomunikasikan informasi secara efektif.
  2. Literasi informasi; kemampuan mengumpulkan, mengorganisasikan, menyaring, mengevaluasi dan membentuk opini berdasarkan hal-hal tadi.
  3. Kreativitas media; kemampuan yang terus meningkat pada individu di manapun berada untuk membuat dan mendistribusikan isi kepada khalayak berapapun ukuran khalayak.
  4. Tanggung jawab dan kompetensi sosial; kompetensi untuk memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi publikasi secara on-line dan bertanggung jawab atas publikasi tersebut, khususnya pada anak-anak. 
Selanjutnya, perkembangan literasi media sendiri telah dilakukan secara massif di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa, bahkan mereka berencana untuk memasukkan “media literasi” ke dalam kurikulum pendidikan mereka. Namun bagaiman dengana Indonesia? Di negara kita kegiatan media literasi masihlah merupakan kegiatan yang dilakukan secara sporadic oleh orang-orang yang memang benar-benar peduli akan hal ini. Dengan demikian, mengingat media literasi merupakan sebuah entitas yang penting dalam mengiringi kehidupan masyarakat media hari ini. Maka, mari kita masifkan kegiatan-kegiatan dan kemampuan dalam media literasi.

No comments:

Post a Comment