Tuesday, May 27, 2014

Mengapa Kesuksesan Senantiasa Bermula dari Kegagalan?


“Sebagian dari kegagalan kita adalah fatal,” Kolumnis Ahli Keuangan dan Ekonomi, Tim Harford, menuliskan dalam bukunya, Adapt: Why Success Always Starts With Failure. Sebagai suatu kebenaran, namun kita sering kali menyangkalnya. Ketika kesalahan tepat membelalak wajah, betapa menyedihkan, kita justru kehilangan keuntungan dari kegagalan: kesempatan untuk menanggulangi ego dan kembali dengan pendekatan yang lebih cemerlang juga menguatkan diri.

Berdasarkan Adapt, “sukses melesap dengan cepat untuk memperbaiki kesalahan kita terlebih dahulu dari pada mendapatkan apa yang semestinya didapat.” Untuk membuktikan pendapat ini, Harford mengutip contoh menarik melalui uji coba dari koreografer visioner Twyla Tharp dan Komandan Angkatan Laut Amerika David Petraeus.

Penulis mewawancarai Harford melalui surel untuk menggali lebih dalam pelajaran kontra-intuitif dari Adapt. Berikut adalah serangkaian konsep yang berkaitan dengan psikologi adaptasi dan kegagalan, menggabungkan wawasan dari percakapan kami dan buku itu sendiri.

Cara yang Salah dalam Menanggapi Kegagalan
Berbicara perihal kegagalan, sesungguhnya ego adalah musuh utama diri kita. Segera ketika segalanya mulai berjalan tidak sesuai rel, mekanisme pertahanan diri mulai beroperasi, menggoda kita untuk melakukan aneka cara agar dapat menyelamatkan harga diri. Namun, sebenarnya ini ialah respon yang tergolong normal – penolakan, memburu kegagalan, dan hedonic editing (orang yang lebih suka mendapatkan keuntungan individu dari pada sosial, mengumpulkan kekelahan kecil menjadi kesusksesan besar (highered.mcgraw-hill.com)) – menghancurkan kemampuan diri untuk dapat beradaptasi dalam masalah.

Penolakan
“Nampaknya mengakui bahwa kita telah melakukan kesalahan dan memperbaikinya adalah hal yang paling sulit dilakukan di dunia. Ia membuatmu menantang status quo yang kamu buat sendiri.”

Memburu Kekalahan
Kita begitu cemas untuk tidak “menarik garis di bawah keputusan yang nantinya kita sesali”. Artinya, kita tetap berakhir melakukan lebih banyak kerusakan ketika mencoba menghapusnya. Contoh, pemain poker yang baru saja kalah yang justru memilih untuk bertaruh lebih besar lagi dari pada yang biasa mereka lakukan. Dalam ketergesa-gesaan ingin segera memenangkan kembali uang yang baru saja lenyap dan “menghapus” kesalahan.

Hedonic Editing
Ketika kita bersinggungan dengan “hedonic editing”, kita mencoba untuk meyakinkan diri kita bahwa kesalahan bukan perkara besar. Kita cenderung membundel kekalahan dengan keuntungan . Dengan kata lain, kita justru menafsirkan kegagalan sebagai kesuksesan melalui berbagai cara.

Readmore:
Rapp, Sarah. Diakses pada 17 Mei 2014, dari http://99u.com/articles/7072/why-success-always-starts-with-failure.

Highered Mcgraw-Hill. Diakses pada 27 Mei 2014, dari http://highered.mcgraw-hill.com/sites/0072848650/student_view0/glossary.html

No comments:

Post a Comment