"Ketika sepasang mata membahasakan sesuatu hal, namun lidah berkata sebaliknya, maka orang berpengalaman lebih percaya pada bahasa mata." (Ralp Waldo Emerson)
Ada sebuah alasan mengapa sepasang mata sering kali dijuluki "jendela hati". Sementara kita dapat menjaga tutur bicara dan menguasai ekspresi wajah tertentu, namun sepasang mata tidak pernah berbohong. Mata kita melukiskan apa yang kita pikirkan, merefleksikan bayangan emosi yang paling dalam, mengungkapkan ketertarikan, kejemuan, keheranan, penerimaan, atau ketidakpercayaan. Tanpa mengucap kata, sepasang mata memiliki kekuatan untuk menarik perhatian, untuk menghakimi, untuk menakuti, dan untuk memberikan kasih sayang. Tak jarang, mungkin kita pernah menyaksikan orang tua yang mampu mendisiplinkan anak-anaknya hanya dengan memberikan "tatapan".
Bahasa mata merupakan salah satu instrumen paling kuat dan efektif dalam komunikasi non verbal. Dalam setiap kesuksesan wawancara pekerjaan; selama negosiasi bisnis; atau di saat pertama kali bertemu sang kekasih, bergantung pada kemampuan kita untuk dapat menyampaikan pesan dengan tepat melalui mata kita. Inilah mengapa penting bagi kita mempelajari bagaimana caranya membaca bahasa mata dan mengintepretasikannya dengan benar. Berikut sepuluh Ekspresi Penting pada Mata.
1. Mata yang Tersenyum (Smiling Eyes)
Para psikolog telah lama memperhatikan bahwa senyuman yang tulus bermula dari mata kita. Ketika kita benar-benar merasa bahagia, kulit di sekitar sudut mata kita berkerut (kerisut di pojok luar mata). Sementara senyum palsu penuh basa-basi hanya menyentuh bibir kita saja. Apakah kamu pernah berada pada situasi: seorang pramuniaga tersenyum padamu, lalu menawarkan bantuan, dan kamu segera merasa bahwa mereka hanya mencoba untuk menjual sesuatu? Nah, kini kamu tahu mengapa demikian. Senyum yang kamu dapatkan bukanlah senyuman yang menyentuh mata.
2. Mata yang Malu-Malu (Shy Eyes)
Orang yang menghindari kontak mata selama percakapan seringkali dianggap tidak tulus, memperdaya, dan sulit dipercaya. Namun, pada praktiknya hal ini tidak selalu benar. Pernyataan berikut mungkin sama anehnya, semakin dalam seseorang menyimpan suatu kebohongan, semakin dalam pula ia menatap kita, bukan hanya itu (ketika pembohong tau kita sedang mencari tanda kebohongannya, dengan sengaja justru ia memperpanjang kontak matanya dengan kita). Lalu apa sebenarnya arti dari sedikit kontak mata atau tidak mengkontak sama sekali? Jawabanyya mungkin bisa berupa rasa malu, gugup, bahkan jenuh.
3. Mata yang Ramah (Friendly Eyes)
Menatap mata lawan bicara kita secara langsung mengirimkan beberapa pesan kepada mereka: (1) kamu adalah orang yang nyaman untuk diajak bicara; (2) kamu adalah orang yang santai dan percaya diri; (3) kamu memberikan perhatian penuh pada pokok pembicaraan. Inilah mengapa banyak ahli public speaking dan motivator menyarankan untuk memlihara kontak mata. Memeliharanya membuat kita mampu memberikan kesan pertama yang positif terhadap lawan bicara.
4. Mata yang Tertutup ('Shut' Eyes)
Menutup mata; melindungi mata; atau merendahkan kelopak mata dalam jangka waktu yang lama; bisa jadi adalah suatu tindakan tidak sadar. Tindakan yang dilakukan guna merespon sesuatu hal yang mungkin tak ingin kita dengar. Contohnya, seorang pria yang diminta untuk bekerja di akhir pekan, menutup dan mengusap kelopak matanya dengan jari, seraya menjawab, "Ga' masalah". Apa yang sebenarnya dirasakan pria itu justru terlukis dari bahasa tubuhnya: betapa dia tidak bahagia harus meluangkan waktu akhir pekannya di kantor.
5. Mata yang Berkedip (Blinking Eyes)
Para psikolog dan ahli bahasa tubuh telah lama mengetahui bahwa ketika kita merasa gugup atau bermasalah akan sesuatu hal, kedipan mata kita menjadi semakin cepat. Sering kali mengedipkan mata semacam ini dilakukan oleh para pembohong. Selain itu, blinking eyes juga tak jarang dialami oleh orang yang merasa tertekan.
6. Mata yang Terjatuh (Drooping Eyes)
Pernahkah kamu berbincang dengan seseorang tapi kesannya orang itu tidak mendengarkan ucapanmu? Kesan itu bisa kamu tangkap ketika kamu melihat kedipan mata yang lemah atau sering kita sebut "pandangan kosong" pada wajah seseorang. Di sisi lain, tanda yang tidak begitu jelas tentang kejenuhan: adalah melakukan lirikan sembunyi-sembunyi melihat sekilas ke kanan. Jika kamu menyadari bahasa tubuh ini dari mata lawan bicaramu, gerakkan jarimu secara berulang atau hentakan kaki, menguap, dan melihat apa yang sedang orang lain itu lihat sebagai tanda untuk mengganti topik pembicaraan yang lebih menarik.
7. Mata yang Menghitung (Calculating Eyes)
Mata yang beredar dari satu sisi ke sisi lainnya atau menundukan pandangan seringkali mengindikasikan bahwa si pemilik mata sedang mengolah informasi. Sulit bagi kita untuk melakukan banyak kontak mata saat kita sedang membuat perhitungan/mengolah informasi. Sebab dalam hal ini energi kognitif kita dibagi untuk memperhatikan keadaan sekitar dan melakukan perhitungan. Jika kebiasaan ini kita bawa saat wawancara, mungkin kita bisa gagal. Karenanya ia bukan sikap yang baik untuk ditunjukkan saat wawancara. Sebagaimana ia biasa ditafsirkan sebagai ketidaktulusan dan keinginan untuk menyembunyikan sesuatu. Jadi, berhati-hatilah untuk tidak terlalu banyak melirik kesana-kemari saat berbicara.
8. Mata yang Mengerling (Squinting Eyes)
Mengerlingkan sebelah mata dapat mengindikasikan: ketidaknyamanan, tertekan, evaluasi, bahkan kemarahan. Jika kamu mendapati ekspresi mata yang semacam ini tepat setelah kamu mengatakan sesuatu, dapat berarti lawan bicaramu meragukan apa yang baru kamu katakan padanya; tidak menyetujui pendapatmu; atau belum sepenuhnya mengerti tentang apa yang kamu katakan. Oleh karena itu perbaiki, sebelum miskonsepsi kecil berubah menjadi perdebatan panas.
9. Mata yang Tertarik (Interested Eyes)
Pada tahun 1975 Eckhard Hess menemukan bahwa pupil membesar ketika kita tertarik pada orang tertentu yang mengajak kita berbincang atau pada benda tertentu yang kita lihat. Namun, dalam menafsirkan indikator ini, kamu juga harus memperhatikan faktor pencahayaan ruangan. Ruangan yang lebih gelap yang mengelilingi kita tentu secara alami akan memperlebar pupil agar kita dapat memasukan cahaya lebih banyak ke mata.
10. Mata yang Bercahaya (Glowing Eyes)
Mereka mengatakan, ketika seseorang merasa bahagia, mata mereka bersinar. Sementara di saat sesorang merasa sedih atau depresi, maka binar-binar pada mata cenderung memudar. Terdapat penelitian substansial mengindikasikan bahwa ketika suasana hati kita berubah, maka binar-binar pada mata kita pun ikut berubah. Lalu, bagaimana membuat mata kita berbinar sebab kebahagian dan kegembiraan? Sayang sekali, tidak ada jalan lain selain menjadi lebih bahagia dan terus belajar untuk mengapresiasi segala rahmat yang telah diberikan dalam hidup kita sehari-hari, bahkan hingga yang terkecil.
Referensi:
Arinanikitina. Diakses pada 26 Mei 2014, dari http://www.arinanikitina.com/body-language-of-the-eyes.html.

No comments:
Post a Comment