Bangsa Indonesia adalah sebuah
bangsa yang cukup dikenal sebagai bangsa yang besar. Besar dalam hal ini bukan
hanya dititik beratkan pada satu hal saja, melainkan ” besar” dalam hal ini
terdapat hampir di seluruh bidang kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia
adalah bangsa yang besar akan populasinya, besar akan keragaman budayanya,
besar akan keragaman bahasanya, bahkan besar dalam hal kekayaan alamnya.
Hal-hal tersebut sudah seharusnya
dikelola dengan sangat baik, sebab hal-hal tersebut merupakan potensi bagi
bangsa Indonesia untuk mencapai berbagai sumber kesejahteraan hidup. Maka,
dalam hal ini bangsa Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang berperan besar
untuk meledakkan potensi-potensi besar tersebut menjadi pilar-pilar pengokoh
bangsa.
Dan sosok-sosok tersebut adalah
para pemuda Indonesia itu sendiri, khususnya mahasiswa. Di mana, para mahasiswa
dikenal sebagai sosok manusia yang segar dengan kecerdasannya, kuat dengan kemampuan
fisik dan mentalnya, serta visioner dengan berbagai ide-ide dan harapan-harapan
luhur untuk bangsanya.
Namun demikian, kenyataan masa
kini mengatakan bahwa tidak banyak mahasiswa Indonesia yang mau dan mampu untuk
meledakkan potensi besar tersebut dengan berbagai penyebab dan salah satunya
dalah degradasi moral mahasiswa itu sendiri.
Degradasi moral ini terjadi tidak
hanya disebabkan oleh satu hal saja, melainkan ada banyak hal yang mampu
menyebabkannya. Dan hingga pada akhirnya degradasi moral ini nantinya akan
menghasilkan banyak nilai-nilai negatif dalam hal perkembangan dan pertumbuhan bangsa
Indonesia itu sendiri. Maka, berdasarkan latar belakang yang telah penulis
jelasakan sebelumnya, penulis merasa
perlu membahas hal tersebut dalam makalah ini dengan judul “Pengentasan
Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”.
Pengertian Moral
Kata moral berasal dari bahasa
Latin Mores. Mores dari kata mos yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan.
Moral dengan demikian dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan. Dan moralitas
berarti hal mengenai kesusilaan. Berdasrkan Kamus
Besar Bahasa Indonesia dari W.J.S. Poerwadarminto terdapat keterangan bahwa
moral adalah ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, sedangkan etika
adalah ilmu pengetahuan asas-asas akhlak (moral).
Penyebab Degradasi Moral Mahasiswa
Syahrin (2005) menyatakan bahwa moral menempati posisi penting dalam
melewati setiap keadaan dan bidang kehidupan. Oleh karena itu, setiap usaha
untuk memajukan suatu masyarakat, mutlak membutuhkan moralitas. Seluruh
komponen diharuskan bermoral, terlebih mereka yang berada di kerucut
orang-orang terpilih, seperti para ulama, akademisi, dan orang yang diberi
amanah untuk menjalankan kekuasaan.
Bahkan di era reformasi popularitas mahasiswa cenderung mengalahkan
popularitas penegak moral yang lainnya, seperti ulama dan para guru. Selain
itu, setelah era reformasi, secara umum kepedulian mahasiswa mengalami
peningkatan luar biasa sebagai penegak perubahan (agent of change), kekuatan moral (moral force), dan kekuatan intelektual (intellctual force).
Namun demikian jika berbicara
tentang moral dan mahasiswa sebagai agen penegak moral, justru dewasa ini mahasiswa-mahasiswa
tersebut terjerembab dalam masalah-masalah yang menyebabkan mereka tumbuh dan
berkembang menjadi sosok mahasiswa yang pragmatis. Sehingganya peran mereka
sebagai agen penegak moral tidaklah begitu maksimal dan optimal yang pada
akhirnya berujung pada degradasi moral pada mahasiswa itu sendiri.
Penyebab-penyebab degradasi atas moral mahasiswa tersebut dapat dilihat
dari berbagai sisi seperti berikut.
- Keluarga, sekolah (perguruan tinggi), dan lingkungan. Keluarga adalah sebuah unit sosial terkecil, walau dikatakan sebagai unit sosial terkecil, namun unit ini memegang peran yang sangat vital dalam pembentukan karakter seorang mahasiswa. Sekolah/perguruan tinggi merupakan kawah candradimuka bagi setiap mahasiswa yang nantinya akan membuat mahasiswa mampu mengkontribusikan diri ke dalam kehidupan sosial diluar kampus yang lebih kompleks dibanding kehidupan perkuliahan itu sendiri. Lingkungan merupakan faktor lain yang senantiasa mengiringi kehidupan setiap manusia, di mana lingkungan dapat menciptakan manusia bermanfaat atau justru manusia sia-sia. Pembentukan karakter yang baik/buruk dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan akan berimplikasi pada kehidupan moral seseorang. Maka sudah seharusnya setiap pranata sosial tersebut mampu mengembangkan konsep-konsep positif dalam ideologi mahasiswa yang nantinya akan diaktualisasikannya.
- Gaya hidup. Gaya hidup sebagian besar mahasiswa yang kian hari kian jauh dari nilai-nilai agama dan sosial, kini menjerumuskan diri mereka ke dalam lubang sekulerisme, hedonisme, pragmatisme dan konsumerisme yang kemudian melahirkan sikap-sikap dan konsep-konsep hidup yang tak agamis dan sosialis lagi. Dimana implikasi ini menjadi salah satu tonggak makin maraknya kebobrokan moral mahasiswa.
- Keteladanan. Berakar pula dari dua poin di atas, dewasa ini pertumbuhan sosok-sosok yang mampu diteladani di negeri ini pun makin mandul. Contohnya saja yang sering kita saksikan di layar kaca, yakni para dewan yang katanya mewakili aspirasi rakyat. Tidak sedikit dari mereka yang mengkhianati komitmen mereka sendiri sebagai pelayan rakyat hanya karena kepentingan pribadi mereka semata.
- Penyalahgunaan substansi teknologi dan asupan negatif oleh media. Perkembangan teknologi dan media yang makin pesat ternyata tidak hanya membawa dampak positif bagi konsumennya, melainkan perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif. Sudah bukan menjadi hal yang asing lagi ditelinga kita ketika mendengar anak-anak di bawah umur 10 tahun telah mampu mengakses produk audio visual yang seharusnya menjadi konsumsi orang dewasa, dan tak jarang anak-anak tersebut mengalami kecanduan dengan hal-hal demikian. Begitu pula dengan media, terlebih lagi media televisi yang notabanenya menjadi konsumsi sehari-hari ternyata tidak sedikit dari drama-drama mereka yang hanya menyuguhkan hiburan semata, sehingga melalaikan asupan-asupan bermuatan moral bagi penontonnya.
- Pergerakan mahasiswa. Menurut Syahrin (2005) masalah-masalah bagi mahasiswa yang menyebabkan degradasi moral dari sisi pergerakan mahasiswa, yakni Pertama, terjadinya hegemonisasi politik. Kedua, terjadinya kebebasan dan demokrasi aktivitas politik yang menyebabkan pergerakan mahasiswa semakin prgamatis. Ketiga, politisasi gerakan mahasiswa oleh berbagai lembaga dan institusi, yang menyebabkan primordialisme radikal dan fokus gerakan hanya pada masalah elementer dan temporal. Keempat, visi yang jelas mengenai visi perjuangan mahasiswa hanya dimiliki oleh segelintir orang, penyebabnya mahasiswa hanya fokus pada pergerakan tanpa diiringi penambahan ilmu pengetahuan. Kelima, rendahnya pengenalan sebagian mahasiswa terhadap arah poltik global, sehingga sebagian gerakan mereka terjebak dalam kepentingan poltik global.
Dampak Degradasi Moral Mahasiswa
Degradasi moral yang semakin hari
semakin menjangkiti mahasiswa-mahasiswa di Indonesia pada akhirnya akan menuai
krisis-krisis pada tataran multi dimensi. Krisis-krisis multi dimensi yang akan
mendera Indonesia ini di antaranya berupa krisis politik, krisis ideologi,
krisis ekonomi, krisis sosial dan budaya, krisis pertahanan dan keamanan, serta
krisis hukum.
Solusi dalam Mengatasi Degradasi Moral Mahasiswa
Berdasarkan penjelasan yang telah
diungkapkan sebelumnya, maka dalam hal ini penulis ingin menawarkan beberapa
solusi demi “Mengentaskan Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”. Solusi-solusi
tersebut adalah sebagai berikut.
Maksimalkan dan optimalkan peran
keluarga
Keluarga merupakan kelompok
sosial pertama dalam kehidupan manusia di mana ia belajar dan menyatakan diri
sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam
keluarga, manusia pertama-tama belajar memperhatikan keinginan orang lain,
belajar bekerja sama, bantu membantu, hingga penanaman etika dan moral. Dengan
kata lain pengalaman interaksi sosial di dalam keluarga, turut menentukan pula
cara-cara tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
- Maksimalkan dan optimalkan peran perguruan tinggi. Sebagaimana kita ketahui bahwa perguruan tinggi adalah tempat bagi para mahasiswa untuk meningkatkan taraf intelegensinya. Namun demikan, seharusnya dalam hal ini sebuah perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagi peningkat taraf intelegensi mahasiswa semata, melainkan sebagai tempat pengoptimalan dan pemaksimalan sikap-sikap dan kebiasaan yang wajar yang telah di bentuk ketika berada di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.
- Maksimalkan dan optimalkan peran lingkungan. Pihak civitas akademika seharusnya bersinergi dalam upaya membentuk lingkungan perguruan tinggi yang positif bagi seluruh civitas akademika perguruan tinggi itu sendiri.
- Maksimalkan dan optimalkan peran media
- Media massa dalam hal ini seharusnya memberi asupan-asupan positif bagi mahasiswa, khususnya media yang menjadi konsumsi sehari-hari seperti televisi, surat kabar, dan semacamnya. Dan bagi mahasiswa itu sendiri seharusnya mampu cerdas dalam bermedia.
- Pemanfaatan substansi teknologi secara tepat. Teknologi seharusnya diciptakan demi kemaslahatan umat dan bukan sebaliknya. Maka pemanfaatan substansi teknolgi pada cara yang tepat adalah penting demi tegaknya nilai-nilai positif terutama nilai-nilai agama dan moral dalam berkehidupan.
- Revitalisasi gerakan mahasiswa (Syahrin: 2005). Memeperjuangkan terlaksananya dehegemonisasi politik ke arah peningkatan ilmu dan teknologi, supermasi hukum, dan pemberdayaan masyarakat.
- Menciptakan aliansi strategis mahasiswa dan akademisi dalam menciptakan Indonesia yang lebih baik dan maju di masa depan.
- Mensosialisasikan pendidikan politik yang beretika melalui pendidikan formal, pelatihan, dialog, dan informasi.
- Mewaspadai dan mengantisipasi fenomena delegitimasi gerakan mahasiswa melalui: konseptuliasasi gerakan, keniscayaan etika gerakan, memupuk kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang lebih hakiki.
Kesimpulan
Moral adalah ajaran tentang
baik-buruk perbuatan dan kelakuan, sedangkan etika adalah ilmu pengetahuan
asas-asas akhlak (moral). Moral
menempati posisi penting dalam melewati setiap keadaan dan bidang kehidupan.
Oleh karena itu, setiap usaha untuk memajukan suatu masyarakat, mutlak
membutuhkan moralitas. Dalam hal ini mahasiswa adalah salah satu agen penegak
moral yang sehrusnya mereka sudah memiliki cukup moral yang baik. Namun, pada
kenyataannya kini mahasiswa tersebut justru terjerumus dalam keadaan yang
mendegradasi moral mereka.
Hal tersebut disebabkan oleh beeberapa faktor dan akan menyebabkan
beberapa efek-efek negatif. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk “Mengentaskan
Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”. Dengan demikian penulis ingin menawarkan
beberapa solusi atas masalah degradasi moral ini, yakni memaksimalkan dan mengoptimalkan
peran keluarga, perguruan tinggi, lingkungan, media massa, serta pendidikan
moral Pancasila, menggunakan subtstansi teknologi secara tepat, dan merevitalisasi gerakan mahasiswa.
Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu, dkk. 1991. Psikologi
Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Angka Fertilitas Total menurut Provinsi 1971, 1980, 1985, 1990, 1991,
1994, 1998, dan 1999. www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 6 Maret 2011.
Harahap, Syahrin.2005. Penegakan
Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suseno, Franz Magnis. 1999. Kuasa
dan Moral. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Prasetyo, Eko. 2008. Degradasi
Moral Bangsa Ini. http://eramuslim.com. Diaakses pada tanggal 21 Februari 2011.
N., Chairunnisa S.. 2010. Degradasi
Moral Mahasiswa Masa Kini Menurut Pak Budiman. Tanpa Nama. http://pmprojustitia.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 21 Februari 2011.
Salam, Burhanuddin. 2000. Etika
Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: Rineka Cipta.
Yatimin Abdullah, M. 2006. Pengantar
Studi Etika. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

No comments:
Post a Comment