Monday, November 4, 2013

Pengentasan Degradasi Moral Mahasiswa


Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang cukup dikenal sebagai bangsa yang besar. Besar dalam hal ini bukan hanya dititik beratkan pada satu hal saja, melainkan ” besar” dalam hal ini terdapat hampir di seluruh bidang kehidupan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar akan populasinya, besar akan keragaman budayanya, besar akan keragaman bahasanya, bahkan besar dalam hal kekayaan alamnya.

Hal-hal tersebut sudah seharusnya dikelola dengan sangat baik, sebab hal-hal tersebut merupakan potensi bagi bangsa Indonesia untuk mencapai berbagai sumber kesejahteraan hidup. Maka, dalam hal ini bangsa Indonesia membutuhkan sosok-sosok yang berperan besar untuk meledakkan potensi-potensi besar tersebut menjadi pilar-pilar pengokoh bangsa.

Dan sosok-sosok tersebut adalah para pemuda Indonesia itu sendiri, khususnya mahasiswa. Di mana, para mahasiswa dikenal sebagai sosok manusia yang segar dengan kecerdasannya, kuat dengan kemampuan fisik dan mentalnya, serta visioner dengan berbagai ide-ide dan harapan-harapan luhur untuk bangsanya.

Namun demikian, kenyataan masa kini mengatakan bahwa tidak banyak mahasiswa Indonesia yang mau dan mampu untuk meledakkan potensi besar tersebut dengan berbagai penyebab dan salah satunya dalah degradasi moral mahasiswa itu sendiri.

Degradasi moral ini terjadi tidak hanya disebabkan oleh satu hal saja, melainkan ada banyak hal yang mampu menyebabkannya. Dan hingga pada akhirnya degradasi moral ini nantinya akan menghasilkan banyak nilai-nilai negatif dalam hal perkembangan dan pertumbuhan bangsa Indonesia itu sendiri. Maka, berdasarkan latar belakang yang telah penulis jelasakan sebelumnya, penulis merasa perlu membahas hal tersebut dalam makalah ini dengan judul “Pengentasan Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”.

Pengertian Moral
Kata moral berasal dari bahasa Latin Mores. Mores dari kata mos  yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat diartikan sebagai ajaran kesusilaan. Dan moralitas berarti hal mengenai kesusilaan. Berdasrkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dari W.J.S. Poerwadarminto terdapat keterangan bahwa moral adalah ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, sedangkan etika adalah ilmu pengetahuan asas-asas akhlak (moral).

Penyebab Degradasi Moral Mahasiswa
Syahrin (2005) menyatakan bahwa moral menempati posisi penting dalam melewati setiap keadaan dan bidang kehidupan. Oleh karena itu, setiap usaha untuk memajukan suatu masyarakat, mutlak membutuhkan moralitas. Seluruh komponen diharuskan bermoral, terlebih mereka yang berada di kerucut orang-orang terpilih, seperti para ulama, akademisi, dan orang yang diberi amanah untuk menjalankan kekuasaan.

Bahkan di era reformasi popularitas mahasiswa cenderung mengalahkan popularitas penegak moral yang lainnya, seperti ulama dan para guru. Selain itu, setelah era reformasi, secara umum kepedulian mahasiswa mengalami peningkatan luar biasa sebagai penegak perubahan (agent of change), kekuatan moral (moral force), dan kekuatan intelektual (intellctual force).

Namun demikian jika berbicara tentang moral dan mahasiswa sebagai agen penegak moral, justru dewasa ini mahasiswa-mahasiswa tersebut terjerembab dalam masalah-masalah yang menyebabkan mereka tumbuh dan berkembang menjadi sosok mahasiswa yang pragmatis. Sehingganya peran mereka sebagai agen penegak moral tidaklah begitu maksimal dan optimal yang pada akhirnya berujung pada degradasi moral pada mahasiswa itu sendiri.

Penyebab-penyebab degradasi atas moral mahasiswa tersebut dapat dilihat dari berbagai sisi seperti berikut.
  1. Keluarga, sekolah (perguruan tinggi), dan lingkungan. Keluarga adalah sebuah unit sosial terkecil, walau dikatakan sebagai unit sosial terkecil, namun unit ini memegang peran yang sangat vital dalam pembentukan karakter seorang mahasiswa. Sekolah/perguruan tinggi merupakan kawah candradimuka bagi setiap mahasiswa yang nantinya akan membuat mahasiswa mampu mengkontribusikan diri ke dalam kehidupan sosial diluar kampus yang lebih kompleks dibanding kehidupan perkuliahan itu sendiri. Lingkungan merupakan faktor lain yang senantiasa mengiringi kehidupan setiap manusia, di mana lingkungan dapat menciptakan manusia bermanfaat atau justru manusia sia-sia. Pembentukan karakter yang baik/buruk dalam keluarga, sekolah maupun lingkungan akan berimplikasi pada kehidupan moral seseorang. Maka sudah seharusnya setiap pranata sosial tersebut mampu mengembangkan konsep-konsep positif dalam ideologi mahasiswa yang nantinya akan diaktualisasikannya.
  2. Gaya hidup. Gaya hidup sebagian besar mahasiswa yang kian hari kian jauh dari nilai-nilai agama dan sosial, kini menjerumuskan diri mereka ke dalam lubang sekulerisme, hedonisme, pragmatisme dan konsumerisme yang kemudian melahirkan sikap-sikap dan konsep-konsep hidup yang tak agamis dan sosialis lagi. Dimana implikasi ini menjadi salah satu tonggak makin maraknya kebobrokan moral mahasiswa.
  3. Keteladanan. Berakar pula dari dua poin di atas, dewasa ini pertumbuhan sosok-sosok yang mampu diteladani di negeri ini pun makin mandul. Contohnya saja yang sering kita saksikan di layar kaca, yakni para dewan yang katanya mewakili aspirasi rakyat. Tidak sedikit dari mereka yang mengkhianati komitmen mereka sendiri sebagai pelayan rakyat hanya karena kepentingan pribadi mereka semata.
  4. Penyalahgunaan substansi teknologi dan asupan negatif oleh media. Perkembangan teknologi dan media yang makin pesat ternyata tidak hanya membawa dampak positif bagi konsumennya, melainkan perkembangan tersebut juga membawa dampak negatif. Sudah bukan menjadi hal yang asing lagi ditelinga kita ketika mendengar anak-anak di bawah umur 10 tahun telah mampu mengakses produk audio visual yang seharusnya menjadi konsumsi orang dewasa, dan tak jarang anak-anak tersebut mengalami kecanduan dengan hal-hal demikian. Begitu pula dengan media, terlebih lagi media televisi yang notabanenya menjadi konsumsi sehari-hari  ternyata tidak sedikit dari drama-drama mereka yang hanya menyuguhkan  hiburan semata, sehingga melalaikan asupan-asupan bermuatan moral bagi penontonnya.
  5. Pergerakan mahasiswa. Menurut Syahrin (2005) masalah-masalah bagi mahasiswa yang menyebabkan degradasi moral dari sisi pergerakan mahasiswa, yakni Pertama, terjadinya hegemonisasi politik. Kedua, terjadinya kebebasan dan demokrasi aktivitas politik yang menyebabkan pergerakan mahasiswa semakin prgamatis. Ketiga, politisasi gerakan mahasiswa oleh berbagai lembaga dan institusi, yang menyebabkan primordialisme radikal dan fokus gerakan hanya pada masalah elementer dan temporal. Keempat, visi yang jelas mengenai visi perjuangan mahasiswa hanya dimiliki oleh segelintir orang, penyebabnya mahasiswa hanya fokus pada pergerakan tanpa diiringi penambahan ilmu pengetahuan. Kelima, rendahnya pengenalan sebagian mahasiswa terhadap arah poltik global, sehingga sebagian gerakan mereka terjebak dalam kepentingan poltik global.

Dampak Degradasi Moral Mahasiswa
Degradasi moral yang semakin hari semakin menjangkiti mahasiswa-mahasiswa di Indonesia pada akhirnya akan menuai krisis-krisis pada tataran multi dimensi. Krisis-krisis multi dimensi yang akan mendera Indonesia ini di antaranya berupa krisis politik, krisis ideologi, krisis ekonomi, krisis sosial dan budaya, krisis pertahanan dan keamanan, serta krisis hukum.

Solusi dalam Mengatasi Degradasi Moral Mahasiswa
Berdasarkan penjelasan yang telah diungkapkan sebelumnya, maka dalam hal ini penulis ingin menawarkan beberapa solusi demi “Mengentaskan Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”. Solusi-solusi tersebut adalah sebagai berikut.
Maksimalkan dan optimalkan peran keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia di mana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalam hubungan interaksi dengan kelompoknya. Di dalam keluarga, manusia pertama-tama belajar memperhatikan keinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantu membantu, hingga penanaman etika dan moral. Dengan kata lain pengalaman interaksi sosial di dalam keluarga, turut menentukan pula cara-cara tingkah laku seseorang terhadap orang lain. 
  1. Maksimalkan dan optimalkan peran perguruan tinggi. Sebagaimana kita ketahui bahwa perguruan tinggi adalah tempat bagi para mahasiswa untuk meningkatkan taraf intelegensinya. Namun demikan, seharusnya dalam hal ini sebuah perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagi peningkat taraf intelegensi mahasiswa semata, melainkan sebagai tempat pengoptimalan dan pemaksimalan sikap-sikap dan kebiasaan yang wajar yang telah di bentuk ketika berada di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah.
  2. Maksimalkan dan optimalkan peran lingkungan. Pihak civitas akademika seharusnya bersinergi dalam upaya membentuk lingkungan perguruan tinggi yang positif bagi seluruh civitas akademika perguruan tinggi itu sendiri.
  3. Maksimalkan dan optimalkan peran media
  4. Media massa dalam hal ini seharusnya memberi asupan-asupan positif bagi mahasiswa, khususnya media yang menjadi konsumsi sehari-hari seperti televisi, surat kabar, dan semacamnya. Dan bagi mahasiswa itu sendiri seharusnya mampu cerdas dalam bermedia. 
  5. Pemanfaatan substansi teknologi secara tepat. Teknologi seharusnya diciptakan demi kemaslahatan umat dan bukan sebaliknya. Maka pemanfaatan substansi teknolgi pada cara yang tepat adalah penting demi tegaknya nilai-nilai positif terutama nilai-nilai agama dan moral dalam berkehidupan.
  6. Revitalisasi gerakan mahasiswa (Syahrin: 2005). Memeperjuangkan terlaksananya dehegemonisasi politik ke arah peningkatan ilmu dan teknologi, supermasi hukum, dan pemberdayaan masyarakat.
  7. Menciptakan aliansi strategis mahasiswa dan akademisi dalam menciptakan Indonesia yang lebih baik dan maju di masa depan.
  8. Mensosialisasikan pendidikan politik yang beretika melalui pendidikan formal, pelatihan, dialog, dan informasi.
  9. Mewaspadai dan mengantisipasi fenomena delegitimasi gerakan mahasiswa melalui: konseptuliasasi gerakan, keniscayaan etika gerakan, memupuk kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang lebih hakiki.


Kesimpulan
Moral adalah ajaran tentang baik-buruk perbuatan dan kelakuan, sedangkan etika adalah ilmu pengetahuan asas-asas akhlak (moral). Moral menempati posisi penting dalam melewati setiap keadaan dan bidang kehidupan. Oleh karena itu, setiap usaha untuk memajukan suatu masyarakat, mutlak membutuhkan moralitas. Dalam hal ini mahasiswa adalah salah satu agen penegak moral yang sehrusnya mereka sudah memiliki cukup moral yang baik. Namun, pada kenyataannya kini mahasiswa tersebut justru terjerumus dalam keadaan yang mendegradasi moral mereka.

Hal tersebut disebabkan oleh beeberapa faktor dan akan menyebabkan beberapa efek-efek negatif. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita untuk “Mengentaskan Degradasi Moral Mahasiswa Indonesia”. Dengan demikian penulis ingin menawarkan beberapa solusi atas masalah degradasi moral ini, yakni memaksimalkan dan mengoptimalkan peran keluarga, perguruan tinggi, lingkungan, media massa, serta pendidikan moral Pancasila, menggunakan subtstansi teknologi secara tepat,  dan merevitalisasi gerakan mahasiswa.

Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu, dkk. 1991. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. 2009. Angka Fertilitas Total menurut Provinsi 1971, 1980, 1985, 1990, 1991, 1994, 1998, dan 1999. www.bps.go.id. Diakses pada tanggal 6 Maret 2011.
Harahap, Syahrin.2005. Penegakan Moral Akademik di Dalam dan di Luar Kampus. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suseno, Franz Magnis. 1999. Kuasa dan Moral. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Prasetyo, Eko. 2008. Degradasi Moral Bangsa Ini. http://eramuslim.com. Diaakses pada tanggal 21 Februari 2011.
N., Chairunnisa S.. 2010. Degradasi Moral Mahasiswa Masa Kini Menurut Pak Budiman. Tanpa Nama. http://pmprojustitia.blogspot.com. Diakses pada tanggal 21 Februari 2011.
Salam, Burhanuddin. 2000. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: Rineka Cipta.

Yatimin Abdullah, M. 2006. Pengantar Studi Etika. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

No comments:

Post a Comment