Petang ini listrik padam tepat ketika adzan Maghrib
berkumandang. Di saat menjelang shalat Isha listrik masih enggan beranjak;
mengaliri energinya pada pijar-pijar yang menerangi rumah dan jalan-jalan kami.
Waktu Isha pun tiba hingga kemudian akhirnya listrik menyala kembali tepat
beberapa detik shalat Ishaku usai.
Shalat Isha usai, bukan hanya listrik padam yang temara,
namun adikku juga pulang dari keperluannya di luar. Adikku agak gaduh karena
esok pagi sekali dia harus bersiaga menunaikan ujian masuk lembaga tertentu.
Jadi, perbekalan harus rampung disiapkan malam ini juga agar esok berangkat
tepat waktu.
Aku yang sedari tadi belum bernjak dari tempat dudukku on the prayer spot mendengar semua kegaduhan
dari dalam kamar yang tertutup. Dari sini aku lihat ada bayangan yang lalu
lalang di depan pintu kamarku. Aku lihat dia, adikku, modar-mandir
kesana-kemari. Namun, ada yang lebih mengejutkanku dari semua bayangan itu.
Dari balik pintu kamarku tepat di depan pintu itu aku
melihat bayangan lain. Bayangan yang tidak pernah aku sangka akan terefleksi
kala itu. Aku lihat sesosok makhluk yang menatap ke pintu kamarku. Lekat lamat
ia tatap pintu itu sembari duduk siaga berjaga-jaga. Bak tentara perbatasan yang
mengintai musuh dari balik semak. Lelah dia duduk, maka berbaring menjadi
pilihan dengan sesekali membersihkan tubuhnya.
Kalian telah bisa menebaknya? Ya, dialah makhluk dengan
jaket bulu berwarna putih, Oliver the
Snow Queen. Aku baru menyadari bahwa rupanya selama ini aku diintai oleh
kucingku satu ini. Menyadari ini membuatku bergumam dalam hati: “…benarkah kami
sedekat itu? Haha… Atau ada motif lain dibalik semua ini? Hihi…” Entahlah, ini
menjadi misteri baru dalam babak drama kehidupan kami berdua. Nantikan
kelanjutan ceritanya.

No comments:
Post a Comment