Aku pernah mempunyai kakak tingkat yang begitu kusayangi karena
Allah. Beliau adalah akhwat yang begitu militant.
Kehilangan kedua orang tuanya tak membuatnya meratapi kehidupan. Namun
dengan takdirnya, dia justru menjadi manusia gemilang. Berbincang tenatang kakak tingkat
satu ini, aku pernah sekali mengikuti seminar beliau, yaitu seminar proposal.
Di Unila (Universitas Lampung), untuk bisa berlari menuju gerbang wisuda maka kami
harus berputar-putar dulu di beberapa ronde kehidupan mahasiswa tingkat akhir. Ronde itu di antaranya, yaitu pertama seminar proposal, kemudian
seminar hasil, dilanjutkan dengan kompre, barulah wisuda.
Dalam seminar proposal aku menyaksikan kakak tingkatku
itu beraksi dengan sangat apik. Namun, setelah ia usai menyajikan materi,
setelah mahasiswa pembahas usai menyampaikan saran dan kritik. Dialah sang
dosen pembahas, membahas konten yang diketik dalam draft skripsi kakak
tingkatku itu. Komentarnya sederhana, yaitu tentang eloknya kepenulisan beliau
namun terasa tidak adil dalam beberapa perspektif. Tidak adil rasanya jika memilih diksi sastrawi sebagai gaya menusli skripsi.
Kakak tingkatku itu memang doyan menulis, tulisannya sudah
beberapa kali dimuat surat kabar. Begitulah yang aku lihat kalau membuka
lembar riwayat pribadi di skripsinya. Intinya track record menulisnya boleh diacungi jempol.
Namun, eloknya
tulisan beliau lebih cenderung bergenre sastra.
Maka, dalam skripsinya tak jarang beliau diseret-seret gaya kepenulisan jenis
itu, sastra. Sehingga ketika di meja seminar tak lekanglah ia dari komentar
perihal gaya kepenulisan.
Sesaat aku mendengar komentar itu, maka saat itu pula
hatiku merasa tercungkil. Walau aku bilang aku tidak terlalu menggemari sastra,
tapi anehnya aku selalu membumbui tulisanku dengan berbagai kalimat mendayu-dayu.
(Kata ibuku:
sastra itu himpunan kalimat dan ungkapan
perasaan yang terlalu mendayu-dayu)
Dengannya aku menjadi cemas dan khwatir, apakah aku bisa
lolos dari itu semua? Sementara skripsi adalah karya tulis ilmiah. Maka sudah
jadi ketentuan kalau menulisnya harus dikaramkan dalam diksi-diksi ilmiah.
Singkat cerita, kecemasan itu menjadi kenyataan. Di suatu
siang dengan perut yang kosong dan keroncongan aku dan seorang kawan berjalan
menuju kantin fakultas. Sembari menunggu pesanan datang ke meja kami. Akhirnya
aku memutuskan untuk membuka kembali laptopku dan menyerahkannya ke seorang
kawan yang duduk di depanku. “Oke P (inisial kawanku),
coba komentarin ini,” pintaku pada kawan itu. Lantas disambutlah laptopku
dan segera saja dia baca dan dibeberkanlah komentarnya tentang tulisanku.
Singkat cerita lagi, tulisanku membuatnya geleng-geleng. Ada
satu kalimat yang membekas untukku, “Aku heran sama kamu, katanya kamu ga’ suka sastra, tapi tulisan kamu penuh sastra,” dan seterusnya dan seterusnya. Maka, tutup ceritalah kisah di kantin itu dengan hadirnya makan ke meja pesanan
kami.
Belum cukup samapi di situ, sang kawan akhirnya update status di social media. Menyatakan keherananya lagi di dinding media
sosialku. Kemudian berdatanganlah orang-orang yang menyukai posting itu, dan berkomentar yang tak
jauh berbeda dengan menyelipkan komentarnya secara pribadi lewat inbox.
Baiklah mungkin memang ini saatnya menunjukkan kejelasan
sikap. Pensiun dari genre sastra
dalam karya tulis ilmiah. Pandai menempatkan diri. Menghindari ego. Dan segala sesuatu
yang menjerumuskanku pada kegamangan diksi dalam skripsi.

No comments:
Post a Comment