Sunday, May 18, 2014

Kegamangan Diksi dalam Skripsi


Aku pernah mempunyai kakak tingkat yang begitu kusayangi karena Allah. Beliau adalah akhwat yang begitu militant. Kehilangan kedua orang tuanya tak membuatnya meratapi kehidupan. Namun dengan takdirnya, dia justru menjadi manusia gemilang. Berbincang tenatang kakak tingkat satu ini, aku pernah sekali mengikuti seminar beliau, yaitu seminar proposal.

Di Unila (Universitas Lampung), untuk bisa berlari menuju gerbang wisuda maka kami harus berputar-putar dulu di beberapa ronde kehidupan mahasiswa tingkat akhir. Ronde itu di antaranya, yaitu pertama seminar proposal, kemudian seminar hasil, dilanjutkan dengan kompre, barulah wisuda.

Dalam seminar proposal aku menyaksikan kakak tingkatku itu beraksi dengan sangat apik. Namun, setelah ia usai menyajikan materi, setelah mahasiswa pembahas usai menyampaikan saran dan kritik. Dialah sang dosen pembahas, membahas konten yang diketik dalam draft skripsi kakak tingkatku itu. Komentarnya sederhana, yaitu tentang eloknya kepenulisan beliau namun terasa tidak adil dalam beberapa perspektif. Tidak adil rasanya jika memilih diksi sastrawi sebagai gaya menusli skripsi.

Kakak tingkatku itu memang doyan menulis, tulisannya sudah beberapa kali dimuat surat kabar. Begitulah yang aku lihat kalau membuka lembar riwayat pribadi di skripsinya. Intinya track record menulisnya boleh diacungi jempol. 

Namun, eloknya tulisan beliau lebih cenderung bergenre sastra. Maka, dalam skripsinya tak jarang beliau diseret-seret gaya kepenulisan jenis itu, sastra. Sehingga ketika di meja seminar tak lekanglah ia dari komentar perihal gaya kepenulisan.

Sesaat aku mendengar komentar itu, maka saat itu pula hatiku merasa tercungkil. Walau aku bilang aku tidak terlalu menggemari sastra, tapi anehnya aku selalu membumbui tulisanku dengan berbagai kalimat mendayu-dayu.

(Kata ibuku: 
sastra itu himpunan kalimat dan ungkapan perasaan yang terlalu mendayu-dayu)

Dengannya aku menjadi cemas dan khwatir, apakah aku bisa lolos dari itu semua? Sementara skripsi adalah karya tulis ilmiah. Maka sudah jadi ketentuan kalau menulisnya harus dikaramkan dalam diksi-diksi ilmiah.

Singkat cerita, kecemasan itu menjadi kenyataan. Di suatu siang dengan perut yang kosong dan keroncongan aku dan seorang kawan berjalan menuju kantin fakultas. Sembari menunggu pesanan datang ke meja kami. Akhirnya aku memutuskan untuk membuka kembali laptopku dan menyerahkannya ke seorang kawan yang duduk di depanku. “Oke P (inisial kawanku), coba komentarin ini,” pintaku pada kawan itu. Lantas disambutlah laptopku dan segera saja dia baca dan dibeberkanlah komentarnya tentang tulisanku.

Singkat cerita lagi, tulisanku membuatnya geleng-geleng. Ada satu kalimat yang membekas untukku, “Aku heran sama kamu, katanya kamu ga’ suka sastra, tapi tulisan kamu penuh sastra,”  dan seterusnya dan seterusnya. Maka, tutup ceritalah kisah di kantin itu dengan hadirnya makan ke meja pesanan kami.

Belum cukup samapi di situ, sang kawan akhirnya update status di social media. Menyatakan keherananya lagi di dinding media sosialku. Kemudian berdatanganlah orang-orang yang menyukai posting itu, dan berkomentar yang tak jauh berbeda dengan menyelipkan komentarnya secara pribadi lewat inbox.

Baiklah mungkin memang ini saatnya menunjukkan kejelasan sikap. Pensiun dari genre sastra dalam karya tulis ilmiah. Pandai menempatkan diri. Menghindari ego. Dan segala sesuatu yang menjerumuskanku pada kegamangan diksi dalam skripsi.

No comments:

Post a Comment