Membaca, bagaimana jika kalian dihidangkan pertanyaan, “Apakah Anda gemar membaca?”. Membolak-balik berbagai lembaran kertas berhias macam-macam tanda dengan banyak makna yang interpretatif. Kegiatan yang memakan kesadaran lebih panjang dan dalam, dari pada sekedar menyimak kotak ajaib pandir (baca: tv) di ruang keluarga kita.
Jika pertanyaan tersebut hadir ke hadapan penulis, sebagaimana suatu ketika sesorang mengedarkan pertanyaan tersebut ke muka dan telinga penulis. Maka, jawabannya ialah “suka, suka, suka”.
Kalaulah dari berbagai literatur yang sering kali
mengedukasi kita dituliskan: bahwa manfaat membaca setidaknya dapat membuka
wawasan. Atau sering pula dikiyaskan menjadi kunci untuk membuka jendela dunia
(buku, penj.). Sementara, bagi penulis sendiri, kegiatan membaca secara
harfiah, justru dapat pula mendekap jiwa menjadi lebih segar dan hidup.
Pertama-tama tentunya sebab kegiatan membaca merupakan
perintah Allah Al Malik. Maka, rasa menyegarkan berdesir dalam hati karena
setidaknya telah mengamalkan apa yang difirmankan-Nya. Sedangkan di sisi lain, ialah
sebab rona-rona kebaruan data-data dan fakta-fakta. Atau bahkan jika ia semata
sebagai fantasi yang menggembalakan akal menerjemahkan huruf-huruf dalam
suhuf-suhuf menjadi gambar-gambar yang bebas abstrak. Sungguh, membaca
menciptakan visualisasi yang lebih paripurna lebih dari film tiga dimensi
sekalipun. Bahkan, kita boleh saja bermain intrepretasi dalam kerangka persepsi
personal yang tidak dipunyai orang lain selain diri kita sendiri.
Menyegarkan
dan hidup, begitulah ketika hati ini
begitu konstan dalam kondisi sadar dan prima saat membaca. Menyenangkan rasanya
disergap berbagai frasa dan klausa menggelitik, unik, dan menarik. Bahkan, karena
diksi-diksi merona kemerahmudaan (baca: cantik) yang mengayakan khasanah kosa
kata penulis. Menyegarkan dan hidup, demikianlah dua kata sederhana yang tidak
akan cukup melukiskan maharaya nikmatnya perintah Allah yang satu itu.

No comments:
Post a Comment